REMBANG – Penyebab gangguan pencernaan yang dialami sejumlah siswa dan guru SMPN 5 Rembang setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) belum diketahui secara pasti.
Hingga Rabu (19/8), hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dari dapur SPPG 3 Mondoteko belum diterima oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Rembang.
Kepala Dinkes Rembang dr. Ali Syofi’i menyampaikan, kondisi para siswa maupun guru yang sebelumnya mengalami gangguan kesehatan kini sudah membaik.
Namun, kepastian mengenai penyebab kejadian tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Tengah.
Ali menjelaskan, pemeriksaan sampel membutuhkan waktu kurang lebih 14 hari.
Proses tersebut mencakup tahapan kultur untuk mengetahui kemungkinan adanya bakteri, virus, jamur, maupun mikroorganisme lain yang menjadi penyebab gangguan pencernaan.
Menurutnya, hasil pemeriksaan akan segera disampaikan kepada masyarakat setelah diterima.
Temuan tersebut nantinya juga menjadi bahan evaluasi dan pembinaan, terutama dalam memastikan standar keamanan pangan pada program MBG.
“Begitu hasil kami terima, secepatnya akan disampaikan kepada publik dan menjadi bahan pembinaan, khususnya terkait keamanan pangan,” ujarnya.
Sebelumnya, Dinkes Rembang telah melakukan pemeriksaan di lapangan.
Dari hasil inspeksi awal, terdapat dugaan bahwa gangguan pencernaan yang dialami warga sekolah berkaitan dengan kemungkinan kontaminasi pada makanan yang dikonsumsi.
Pemeriksaan laboratorium belum bisa dilakukan di Rembang karena fasilitas peralatan serta sumber daya manusia yang tersedia belum memadai.
Karena itu, sampel harus dikirim ke Labkesda Provinsi Jawa Tengah untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Di sisi lain, distribusi MBG dari SPPG Mondoteko 3 menuju SMPN 5 Rembang untuk sementara masih dihentikan.
Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Rembang bersama koordinator wilayah SPPG tengah menyiapkan skema pengalihan distribusi dari dapur lain yang lokasinya lebih dekat.
PIC penyaluran MBG sekaligus Kabid Pembinaan SMP Dindikpora Rembang, Ngadiyono, mengatakan proses pengalihan tersebut masih dalam tahap penataan.
Selain menentukan dapur pengganti, pihaknya juga melakukan pendataan terhadap siswa yang bersedia menerima makanan program MBG.
Kepala SMPN 5 Rembang Menik Mustikatun membenarkan adanya rencana pengalihan penyaluran makanan.
“Memang ada pengalihan dari SPPG Mondoteko 3, semua penerima manfaat dialihkan ke SPPG terdekat.
Untuk sementara, penerima manfaat dari sekolah tersebut akan mendapatkan MBG dari SPPG terdekat, yakni SPPG Pasarbanggi.
Pihak sekolah juga memberikan pilihan kepada orang tua atau wali siswa mengenai keberlanjutan penerimaan MBG.
Sekolah menyediakan formulir yang dapat diisi untuk menyatakan apakah orang tua mengizinkan anaknya tetap menerima makanan dari program tersebut.
Sementara itu, siswa yang sebelumnya mengalami gangguan pencernaan hingga harus mendapatkan perawatan kini telah kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Aktivitas di SMPN 5 Rembang pun berangsur kembali seperti biasa.
Meski sebagian besar kondisi warga sekolah sudah membaik, sejumlah guru menyebut masih terdapat beberapa orang yang belum sepenuhnya pulih.
Kendati demikian, kondisi tersebut tidak sampai menghambat mereka dalam menjalankan aktivitas pekerjaan.
Sampai hasil laboratorium keluar, penyebab pasti kejadian di SMPN 5 Rembang masih menunggu kepastian dari pemeriksaan ilmiah.
Hasil uji tersebut diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi agar keamanan pangan dalam penyaluran MBG semakin terjamin. (noe)
Editor : Ali Mustofa