Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Byar-Pet  14 Kecamatan di Rembang Bisa Bikin Investor Bisa Kabur dan Gelombang PHK

Ali Mahmudi • Senin, 22 Juni 2026 | 09:36 WIB
WISNU AJI/RADAR KUDUS
SEPI AKTIVITAS: Perusahaan pengrajin kayu ekspor di Rembang sepi aktivitas lantaran pemadaman listrik baru-baru ini.
WISNU AJI/RADAR KUDUS SEPI AKTIVITAS: Perusahaan pengrajin kayu ekspor di Rembang sepi aktivitas lantaran pemadaman listrik baru-baru ini.

 


REMBANG – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Rembang angkat bicara soal pemadaman listrik yang melanda 14 kecamatan dalam beberapa pekan terakhir. Jika dibiarkan berlarut, kondisi ini dikhawatirkan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga menurunkan minat investor menanamkan modal di Rembang.

Ketua Kadin Kabupaten Rembang Arifin mengatakan, intensitas pemadaman kini tergolong tinggi. Dalam sepekan, satu daerah bisa mengalami byar-pet lebih dari dua kali.

“Dampak proses produksi terhambat, tidak semua usaha memiliki back up generator atau genset. Kalau terjadi pemadaman langsung berdampak terhadap biaya produksi, karyawan tetap kita bayar tapi kerja tidak optimal,” ujarnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus, Sabtu (20/6).

Akibatnya, kata Arifin, jadwal produksi yang sudah disepakati dengan pelanggan ikut molor. Reputasi perusahaan di mata customer pun taruhannya, ditambah arus kas perusahaan tersendat karena pembayaran otomatis ikut mundur.

Sektor usaha berbasis online turut terpukul. Saat listrik padam, sales lapangan praktis tak bisa bekerja. Mengandalkan gadget pun hanya solusi sementara, baterai cadangan BTS punya batas waktu pemakaian. Jika pemadaman berlangsung lama, layanan internet ikut ambruk.

Kadin mencatat keluhan datang dari berbagai bidang usaha. Konveksi mengalami penurunan produksi dan pesanan mundur. Pelaku usaha kreatif seperti desainer grafis juga lumpuh karena bergantung penuh pada listrik.

Pedagang dan grosir frozen food terancam kualitas barang menurun lantaran ruang pendingin tak berfungsi. Usaha laundry pun tak luput dari dampak.

Arifin bahkan mengalami sendiri imbas pemadaman saat memotong rambut di sebuah barber shop di Rembang kota, Sabtu malam. “Mereka menolak pelanggan yang datang karena alat cukur pakai listrik. Memang ada sistem charger, tapi hanya cukup untuk melayani beberapa pelanggan. Setelah baterai habis, mereka stop bekerja,” katanya.

Industri menengah ke atas yang sudah memiliki genset pun tak sepenuhnya aman. Selisih biaya solar dengan tarif listrik PLN cukup jauh, sehingga biaya produksi membengkak akibat pemakaian genset.

“Hampir semua usaha di Kabupaten Rembang terdampak, karena di era sekarang pengusaha menggunakan bantuan mesin atau alat kerja lain yang semuanya membutuhkan listrik,” tegasnya.

Di tengah kondisi ini, pelaku usaha juga menghadapi tekanan lain: kenaikan harga bahan baku berbasis minyak imbas situasi perang global, termasuk plastik dan bahan baku impor. Akibatnya, harga pokok produksi (HPP) melonjak dan daya saing produk lokal tergerus dibanding produk asal Tiongkok dan Vietnam.

“Pemadaman listrik menambah beban bagi para pelaku usaha,” kata Arifin.

Ia menegaskan, bila pemadaman terus berulang, perusahaan berisiko menghadapi masalah serius: PHK, gagal bayar pinjaman ke perbankan, hingga menurunnya minat investor.

“Dampaknya luar biasa. Kadin berharap permasalahan ini segera teratasi, sehingga pengusaha bisa tetap beraktivitas di tengah ekonomi yang sangat menantang,” pungkasnya. Ia juga berharap pemerintah turut memprioritaskan ketahanan energi, sejajar dengan ketahanan pangan. (noe/ali)

 

Editor : Ali Mahmudi
#upj pln rembang #kadin rembang #Rembang hari ini #umkm rembang #pln