Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Listrik Padam hingga 6 Jam, Aktivitas Ekonomi Warga Rembang Terganggu

Ali Mustofa • Jumat, 19 Juni 2026 | 11:17 WIB
19.inddJAGA KEANDALAN: Pekerjaan melakukan inspeksi dan pemeliharaan jaringan distribusi di salah satu tiang listrik di PLN ULP Rembang. (PLN ULP RBG UNTUK RADAR KUDUS)
19.inddJAGA KEANDALAN: Pekerjaan melakukan inspeksi dan pemeliharaan jaringan distribusi di salah satu tiang listrik di PLN ULP Rembang. (PLN ULP RBG UNTUK RADAR KUDUS)

REMBANG – Pemadaman listrik masih kerap terjadi di Kabupaten Rembang dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran warga, terutama terkait potensi kerusakan peralatan elektronik serta terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat.

Ulil Albab, warga Desa Kasreman, Rembang Kota, mengatakan pemadaman listrik terjadi berulang dalam dua pekan terakhir.

Menurutnya, gangguan listrik bahkan bisa terjadi sekitar sekali dalam sepekan.

“Sepekan sekali listrik padam. Sudah dua minggu terakhir seperti itu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemadaman pertama terjadi pada 4 Juni lalu.

Saat itu, hampir seluruh wilayah termasuk beberapa desa sekitar mengalami kondisi gelap gulita. Listrik padam dari sekitar pukul 15.00 hingga 21.00 WIB.

“Waktu itu padam sekitar pukul tiga sore sampai jam sembilan malam. Mungkin ada gangguan jaringan, tapi tidak tahu pasti penyebabnya,” jelasnya.

Ulil juga menyebut adanya informasi yang beredar di media sosial terkait dugaan penghematan batu bara yang berdampak pada pemadaman bergilir.

Namun, ia mengaku tidak mengetahui kebenaran informasi tersebut.

“Katanya ada penghematan, bahkan ada isu pemadaman bergilir. Kalau benar, tentu merugikan karena alat elektronik bisa terdampak,” keluhnya.

Keluhan juga datang dari Muhammad, warga Rembang Kota.

Ia mengatakan anaknya menjadi rewel saat listrik padam karena tidak bisa menggunakan pendingin ruangan, sehingga mengganggu waktu istirahat.

“Anak jadi susah tidur kalau listrik mati. Kami sampai harus pakai kipas tambahan,” ujarnya.

Sementara itu, Umam, warga lainnya yang berprofesi sebagai pedagang es, mengaku mengalami kerugian akibat tidak bisa mengoperasikan mesin pendingin saat listrik padam.

“Es cepat mencair, jadi usaha terganggu. Kadang terpaksa jual manual,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan oleh seorang tukang cukur di wilayah Jambangan, Desa Padaran, Rembang Kota.

Ia menyebut pelanggan harus menunda layanan atau menggunakan cara manual ketika listrik padam.

“Kalau alat listrik tidak bisa dipakai, ya terpaksa manual atau ditunda,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Rembang, Jati Kuncahyo, membenarkan adanya gangguan listrik yang masih terjadi di wilayah tersebut.

Menurutnya, pemadaman yang terjadi disebabkan oleh gangguan teknis pada sistem kelistrikan, sehingga memengaruhi pasokan ke sejumlah wilayah.

“Kondisi yang terjadi di Kabupaten Rembang ini memang murni akibat gangguan,” jelasnya.

Ia menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan atas ketidaknyamanan yang terjadi dan memastikan pihaknya terus berupaya melakukan pemulihan.

PLN saat ini mengerahkan seluruh sumber daya untuk menjaga keandalan sistem, termasuk melakukan manajemen beban secara terbatas di wilayah terdampak guna menjaga stabilitas pasokan listrik.

“Upaya kami adalah meminimalkan dampak dan durasi pemadaman melalui pengaturan beban,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan proses pemulihan akan terus disampaikan melalui kanal komunikasi resmi PLN hingga kondisi kembali normal. (noe)

Editor : Ali Mustofa
#aktivitas ekonomi #pemdaman bergilir #gelap gulita #pemadaman listrik #rembang