REMBANG – Hari terakhir Seleksi Penerimaan Siswa Baru (SPMB) online perdana di Kabupaten Rembang diwarnai kekacauan.
Calon siswa dari Desa Tireman yang sudah mengantongi bukti verifikasi mendapati nomor pendaftaran anaknya lenyap dari sistem.
Di jalur prestasi, sejumlah peserta terlempar akibat pemorsian nilai piagam yang dinilai terlalu besar.
Anggit, warga Desa Tireman, Rembang, tak menyangka proses pendaftaran anaknya berakhir seperti itu.
Senin (8/6), ia mendaftar secara online mandiri ke SDN Kutoharjo IV melalui jalur domisili.
Keesokan harinya ia datang langsung ke sekolah untuk verifikasi. Status anaknya dinyatakan diterima, bukti penerimaan sudah di tangan.
Sepanjang hari kedua, peringkat anaknya terus bergerak — dari posisi 10 siang hari, turun ke 11, lalu 12 pada sore hari.
Hingga pukul 21.00 malam bertahan di peringkat 12. Merasa aman, ia tidak lagi memantau.
Rabu (10/6) pagi, kenyataan berbeda menanti. Nama anaknya beserta seluruh data pendaftaran hilang sepenuhnya dari sistem. Pihak sekolah menjelaskan, Desa Tireman dinyatakan tidak masuk dalam zonasi SDN Kutoharjo IV. Seluruh berkas calon siswa dari Tireman dikembalikan.
"Nomor pendaftaran anak saya sudah tidak ada di sistem. Padahal sudah pegang bukti verifikasi dari sekolah," keluh Anggit.
Nasib serupa menimpa Tatit Dharma. Ia mengaku memantau sistem siang dan malam.
Rabu pagi pukul 07.00, data anaknya yang sempat berada di urutan 38 tiba-tiba raib.
"Kebetulan Rabu pagi pukul 07.00 di sistem pendaftaran anak saya sudah tidak ada secara otomatis," katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin (10/6).
Ia berinisiatif mendaftar ulang. Namun saat mencoba, nama sekolah yang sejak hari pertama dan kedua tercatat pun tidak lagi muncul.
"Ternyata saat mendaftar tidak ada nama sekolah yang awal hari pertama dan kedua nyantol. Kebetulan anak saya mengambil jalur domisili," terangnya.
Tatit lalu mendatangi posko aduan Dindikpora Rembang. Dari sana dijelaskan irisan domisili yang digunakan mengacu SK lama, dan desa yang ditempatinya tidak masuk dalam irisan sekolah yang dituju.
"Masalahnya hari terakhir dan tidak ada info. Kalau orang tua tidak inisiatif mengecek di sistem tidak bakal tahu. Kita pikir secara rangking sudah aman," bebernya.
Di jalur prestasi, persoalan berbeda mencuat. Seorang orang tua yang enggan disebutkan namanya menyoroti pemorsian nilai tambahan piagam yang dinilai terlalu besar hingga membuat banyak peserta terlempar dari peringkat.
"Jalur prestasi angkanya terlalu besar. Jadi banyak yang terlempar tambahan nilai jalur piagam," masukannya.
Kabid SD Dindikpora Rembang, Kapti Prastiyo Aji, mengakui ada human error pada irisan domisili di SDN Kutoharjo IV, khususnya Desa Pulo dan Desa Tireman.
Kesalahan baru diketahui pada hari kedua. Karena tidak ada dasar legal formal untuk perubahan, sistem terpaksa di-reset dan dikembalikan sesuai SK awal.
"Kekurangan sosialisasi kurang panjang. Wali murid yang masih komplain kurang tahu," kata Kapti.
Ia memastikan setiap aduan ditangani secepatnya. Bagi peserta yang terdampak, sejumlah SD masih memiliki kuota tersedia, antara lain SDN Kutoharjo 5, SDN 1 Leteh, dan SDN 3 Sumberjo.
Untuk jenjang SMP, PIC SPMB sekaligus Kabid SMP Dindikpora Rembang, Ngadiyono, melaporkan pelaksanaan berjalan lancar.
Sisa kuota jalur prestasi, mutasi, dan afirmasi yang belum terpenuhi dialihkan ke jalur domisili. SMPN 4 dan SMPN 5 Rembang dilaporkan masih belum memenuhi kuota, dengan perpanjangan pendaftaran hingga 13 Juni 2026.
Terkait pemorsian nilai jalur prestasi, Ngadiyono menjelaskan poin dibobot per jenjang mulai tingkat kabupaten hingga internasional.
"Jalur akademik bobotnya hampir imbang kejuaraan tingkat kabupaten," pungkasnya. (noe/ali)
Editor : Ali Mahmudi