REMBANG – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Rembang Migas Energi (RME) resmi comeback memutar roda bisnisnya. Kali ini, PT RME menyasar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memasok Compressed Natural Gas (CNG) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dorokandang, Kecamatan Lasem.
Langkah ini ditandai dengan seremoni "nyala perdana" pengoperasian CNG, Senin (1/6). Hadir langsung Ketua Satgas MBG Kabupaten Rembang Hanies Cholil Barro’, Komisaris PT RME Mardi, Direktur PT RME Rizal Wijaya, perwakilan Setda Rembang, serta anggota Komisi II DPRD Rembang.
SPPG Dorokandang menjadi pionir dapur MBG di Rembang yang beralih dari LPG konvensional ke CNG. Migrasi energi ini diklaim mampu memangkas biaya operasional dapur hingga 20-30 persen.
Ketua Satgas MBG Rembang, Hanies Cholil Barro’, mengapresiasi langkah SPPG Dorokandang sebagai momentum perdana. Menurutnya, kerja sama dengan BUMD RME merupakan langkah strategis demi kemandirian ekonomi daerah.
"Insya Allah ke depan SPPG-SPPG lain di Rembang akan segera menyusul untuk migrasi dari LPG ke CNG. Saat ini sudah ada sekitar 72 dapur yang beroperasi di Kabupaten Rembang dan kami terus menjalin komunikasi untuk perluasan ini," ujar Hanies.
Komisaris PT RME, Mardi, menyebut langkah ini sekaligus menjadi momentum comeback bagi perusahaannya. Sebelumnya, BUMD ini sempat mengelola sumur gas bumi di Krikilan, Kecamatan Sumber, yang diproduksi oleh PHE Randugunting hingga akhir 2021. Namun operasional sempat tersendat akibat kendala teknis.
"Komitmen RME didirikan oleh Pemkab adalah untuk memberikan kontribusi berupa dividen atau Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan masuk ke SPPG, kami tidak hanya menghidupkan kembali lini bisnis perusahaan, tetapi juga berkomitmen mendukung penggunaan energi hijau yang bersih," terang Mardi yang juga menjabat Asisten II Setda Rembang.
Dari sisi teknis, Direktur PT RME, Rizal Wijaya, menegaskan efisiensi 25-30 persen itu bukan klaim di atas kertas. Angka tersebut merupakan hasil uji coba riil selama sepekan di lapangan. Selain lebih murah, faktor keselamatan gas bumi juga tinggi.
"Risiko kebocoran sangat rendah selama seluruh prosedur operasional dan standar Health, Safety, and Environment (HSE) dipatuhi secara ketat. Untuk pasokan, kami pastikan sangat aman karena RME telah menjalin kemitraan strategis dengan produsen CNG di Semarang," urai pria yang akrab disapa Gus Rizal tersebut.
PT RME memasang target optimistis. Jika minimal 50 persen dari total SPPG di Rembang beralih menggunakan CNG, perusahaan menargetkan sudah bisa menyetor dividen bagi PAD Kabupaten Rembang pada tahun 2027 mendatang.
Mardi menambahkan, masyarakat umum memang lebih akrab dengan LPG tabung melon atau biru. Padahal di sektor industri besar, penggunaan CNG sudah sangat lumrah karena jauh lebih ekonomis dan ramah lingkungan.
Selain menyasar dapur gizi, PT RME pekan ini juga mulai melakukan instalasi Pressure Regulating System (PRS) untuk memperluas pasar ke sektor perhotelan, restoran, serta industri kecil-menengah (IKM) di wilayah Rembang. (noe/ali)
Editor : Ali Mahmudi