REMBANG – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Masjid Jami Lasem, Kabupaten Rembang, saat prosesi penggantian kain luwur makam Mbah Sambu, Mbah Srimpet, dan para masyayikh Lasem digelar pada Jumat (29/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan haul tokoh-tokoh penyebar Islam yang dihormati masyarakat Lasem.
Prosesi pergantian luwur berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan dihadiri masyarakat serta para jamaah dari berbagai daerah.
Setelah prosesi penggantian kain luwur pada sore hari, acara dilanjutkan pada malam harinya dengan pembacaan manaqib yang dipimpin KH Imam Shofwan, kemudian ditutup dengan doa dan tahlil bersama.
Koordinator Publikasi Haul, Abdullah Hamid, menjelaskan bahwa peringatan haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet, dan para masyayikh Lasem berlangsung selama tiga hari dengan berbagai kegiatan keagamaan dan budaya yang melibatkan masyarakat luas.
Menurutnya, tradisi penggantian kain luwur kini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian haul dan secara khusus telah rutin diselenggarakan dalam tiga tahun terakhir.
“Penggantian kain luwur sudah menjadi bagian dari rangkaian acara haul dan mulai dilaksanakan secara khusus dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, panitia juga mengumumkan lelang kain luwur yang sebelumnya digunakan untuk makam Mbah Sambu dan Mbah Srimpet.
Lelang tersebut mendapat perhatian besar dari para jamaah dan masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan penuh makna tersebut.
Meski awalnya dibuka hingga Minggu, hasil rapat panitia pada Sabtu (30/5/2026) menetapkan pemenang lelang lebih awal.
Kain luwur tersebut berhasil dimenangkan oleh H. Muhammadun dari Duta Anugerah Ilahi dengan nilai mahar sebesar Rp3,5 juta.
Abdullah menegaskan bahwa nilai utama dari lelang tersebut bukan terletak pada besarnya nominal yang diberikan.
Melainkan sebagai bentuk kepedulian, keikhlasan, serta upaya melestarikan tradisi penghormatan kepada para ulama dan tokoh penyebar agama Islam di Lasem.
“Yang terpenting bukan besar kecilnya nilai mahar, tetapi niat dan kepedulian untuk ikut nguri-uri tradisi. Semoga rasa hormat dan ta'lim kepada para masyayikh membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi kita semua,” pungkasnya.
Rangkaian haul ini menjadi salah satu tradisi religius yang terus dijaga masyarakat Lasem sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para ulama.
sekaligus sarana mempererat ukhuwah dan melestarikan warisan budaya Islam yang telah berkembang di wilayah tersebut selama berabad-abad. (noe)
Editor : Ali Mustofa