Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bau Limbah Pabrik Ikan Hantam Pariwisata Rembang, Okupansi Hotel Anjlok 60%

Ali Mahmudi • Selasa, 17 Maret 2026 | 19:21 WIB
MENGADU: Pengaduan PHRI Rembang ke Dinbudpar Rembang terkait bau limbah pabrik pengolahan ikan di Kaliori.(ISTIMEWA/RADAR KUDUS)
MENGADU: Pengaduan PHRI Rembang ke Dinbudpar Rembang terkait bau limbah pabrik pengolahan ikan di Kaliori.(ISTIMEWA/RADAR KUDUS)

REMBANG – Bau menyengat limbah dari tiga pabrik pengolahan hasil laut di Desa Banyudono, Kecamatan Kaliori, membuat okupansi hotel di kawasan itu merosot drastis hingga lebih dari 60 persen. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Rembang mendesak pemerintah daerah segera bertindak tegas agar industri pariwisata tidak mati suri.

Pemilik Hotel Pantura, Siti Setyorini mengaku tamu banyak mengeluh dan langsung memilih pindah. “Bau ini masuk sampai ke kamar hotel, terutama saat angin laut bertiup kencang. Hampir setiap hari, 24 jam non-stop. Okupansi kami turun lebih dari 60 persen,” keluh Siti.

Keluhan serupa datang dari Pemilik Hotel Kartini, Tulus Setijabudi. Ia menyoroti pencemaran air tanah yang kian parah. “Di musim kemarau, air sumur berubah warna jadi merah dan berbau. Kami terpaksa beli air tangki PDAM supaya tamu tidak komplain. Ini bukan cuma soal bau, tapi sanitasi dan kenyamanan wisatawan,” ujar Tulus.

Baca Juga: Selain Indo Seafood, Dua Perusahaan di Kaliori Diduga Buang Limbah ke Laut

Menurut Tulus, masalah ini sudah berlarut-larut meski sudah sering dikeluhkan ke perusahaan. Ia berharap dua pabrik lain mengikuti langkah penindakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terhadap salah satu perusahaan sebelumnya (PT ISF). “Kita sama-sama cari makan, tapi jangan sampai pariwisata mati karena limbah tidak terkendali,” tegasnya.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati mengakui masalah ini sudah lama berlangsung dan luput dari pengawasan ketat. “Ada empat hotel di sekitar pabrik yang terdampak. Bahkan tamu baru check-in langsung minta pindah karena bau limbah mencemari udara dan tanah,” katanya.

Dinbudpar khawatir jika dibiarkan, pariwisata Rembang yang mengandalkan pantai akan semakin terpuruk. Langkah konkret sudah disiapkan: berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mencari solusi bersama. “Kami akan pastikan lingkungan kembali nyaman bagi wisatawan dan pelaku usaha hotel,” pungkas Isti.

Kasus ini menambah daftar keluhan warga Banyudono terhadap pencemaran limbah pabrik pengolahan ikan, yang juga berdampak pada nelayan dan ekosistem pantai. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya berkoordinasi, tapi segera melakukan pengawasan dan penegakan aturan lingkungan secara tegas. (ali)

Editor : Admin
#kasus lingkungan rembang #bau limbah rembang #pencemaran kaliori #okupansi hotel turun rembang #limbah pabrik ikan #pariwisata rembang terdampak #hotel rembang sepi #pencemaran udara pesisir #limbah industri perikanan #krisis hotel rembang #dampak limbah ke wisata #pencemaran air tanah rembang #keluhan hotel rembang #industri ikan kaliori #pencemaran lingkungan jawa tengah #bau limbah laut #dampak limbah ke ekonomi #dinbudpar rembang #PHRI Rembang #Wisata Pantai Rembang