Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Banjir Kepung Desa Menoro Rembang, Diduga Gunung Gundul di Daerah Atas

Redaksi Radar Kudus • Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:43 WIB

Photo
Photo

REMBANG – Desa Menoro, Kecamatan Sedan, kembali dilanda banjir pada Jumat malam (9/1).

Air sungai meluap ke permukiman warga setelah aliran tersumbat rumpun bambu yang terbawa arus dan tersangkut di bawah jembatan.

Akibatnya, rumah warga di tiga RT terdampak, dengan jumlah sekitar 65 kepala keluarga mengalami kebanjiran.

Baca Juga: Isu Tunjangan Sertifikasi Guru di Rembang Diduga Disunat Rp 100 Ribu, Kepala Dindikpora Beri Klarifikasi

Peristiwa banjir terjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, hujan dengan intensitas cukup tinggi mengguyur kawasan pegunungan di wilayah hulu, meliputi Sidomulyo, Dadapan, Sambong, hingga Kumbo.

Aliran air dari wilayah tersebut mengarah ke Desa Menoro hingga Gandri dan Bogorejo.

Wilayah hulu yang banyak terdapat aktivitas tambang diduga turut memicu banjir.

Penggundulan gunung menyebabkan daya resap tanah berkurang, diperparah hujan deras yang turun hampir sepanjang malam.

Selain itu, longsoran rumpun bambu dari kawasan Kenong–Kedungringin ikut terbawa arus sungai.

Bambu-bambu tersebut akhirnya tersangkut di jembatan dekat balai desa yang posisinya menikung, sehingga dua rumpun bambu tertahan dan menyumbat aliran air.

“Aliran sungai tertutup total, air kemudian meluap dan menggenangi rumah warga di tiga RT, sekitar 65 KK. Hampir semua rumah kemasukan air, baik dari depan maupun belakang. Ketinggian genangan di halaman rumah rata-rata mencapai 70 sentimeter,” jelasnya.

Baca Juga: Dugaan Pemaksaan Pengadaan APAR di Desa-Desa Rembang Jadi Sorotan Dewan

Sejak air mulai meluap, pemerintah desa bersama warga langsung melakukan gotong royong sekitar pukul 20.00 WIB.

Upaya tersebut turut dibantu unsur TNI dan Polri. Karena keterbatasan peralatan, pihak desa kemudian meminta bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang serta alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU).

Pada Sabtu pagi, BPBD Rembang turun ke lokasi dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Sri Jarwati.

Bersama warga, mereka melakukan kerja bakti untuk mengangkat rumpun bambu yang menyumbat aliran sungai serta membersihkan tumpukan sampah.

Penanganan ditargetkan selesai dalam satu hari, meski warga tetap diminta waspada.

Baca Juga: Gerbong Mutasi Kembali Bergerak, Pemkab Rembang Siap Lantik Pejabat Baru

“Sejak Jumat malam sebenarnya sudah dibuatkan celah aliran air agar genangan tidak meluas. Air berangsur surut dan sekitar pukul 03.00 dini hari kondisi mulai terkendali,” tambahnya.

Banjir kali ini merupakan kejadian kedua dalam setahun terakhir.

Pada peristiwa sebelumnya, luapan air terjadi di bagian bawah jembatan dan menggenangi RT 1 RW 2.

Sementara banjir terbaru melanda wilayah atas, yakni RT 4 RW 1, RT 4 RW 3, RT 3 RW 2, hingga meluas ke RT 1 RW 3.

Warga mengaku khawatir jika kembali terjadi kiriman rumpun bambu dari hulu.

Ketika bambu datang secara bersamaan dan tersangkut di jembatan, aliran sungai sulit dikendalikan.

Karena itu, pada Jumat malam warga secara swadaya memotong bambu menggunakan gergaji mesin.

Genangan air juga sempat merendam jalan kecamatan yang menghubungkan Desa Menoro dan Kenongo.

Di sekitar balai desa Menoro menuju Masjid hingga Dukuh Damean, ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa.

Warga pun segera berjibaku membersihkan bambu yang menyumbat aliran sungai. (noe)

Editor : Ali Mustofa
#banjir #rembang #Rumpun Bambu #sampah #alat berat #BPBD