REMBANG – Sektor perkebunan tembakau di Kabupaten Rembang menghadapi tantangan berat tahun ini. Luas tanam tidak mencapai target, sementara kualitas panen juga menurun.
Kondisi ini berdampak pada penurunan transaksi penjualan yang signifikan. Bila sebelumnya mencapai Rp 600-an miliar, tahun ini hanya sekitar Rp 500 miliaran.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengevaluasi bahwa produksi tembakau mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Penyebab utamanya adalah cuaca yang tidak mendukung.
"Secara luas tanam, target kami hampir 8.000 hektare lebih, tapi hanya tercapai 7.100 hektare," kata Agus saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus, Jumat (28/11).
Produktivitas juga ikut terdampak. Kualitas tembakau tidak sesuai harapan karena cuaca buruk, yang membuat petani kesulitan. Hal ini mempengaruhi nilai transaksi penjualan secara keseluruhan.
"Catatan kami menunjukkan transaksi tembakau mengalami penurunan," terang Agus.
Ia menjelaskan, penurunan mencapai 20-30 persen. Dalam nilai rupiah, transaksi tahun ini sekitar Rp 500 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya mencapai Rp 600 miliar.
Dintanpan telah menyerap aspirasi petani di lapangan. Mereka berharap mitra usaha bisa memberikan harga yang lebih baik untuk hasil panen berkualitas. Selain itu, biaya awal seperti penebusan benih diharapkan lebih terjangkau.
"Pemerintah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) akan berupaya memberikan bantuan yang merata, mungkin dalam bentuk pupuk atau dukungan lain yang bisa dinikmati petani tembakau," sambung Agus.
Sebelumnya, pada akhir September 2025, Bupati Rembang Harno meninjau lahan tembakau di Desa Karangharjo, Kecamatan Sulang. Ia memeriksa kondisi tanaman, berdialog dengan petani dan pemerintah desa, serta melihat proses mekanisasi peralatan. Kunjungan diakhiri dengan peninjauan proses pembelian tembakau di PT Sadhana.
Saat itu, Bupati Harno menyampaikan bahwa kondisi global tembakau di Rembang dipengaruhi cuaca basah. Hal ini mempengaruhi kualitas dan harga jual.
"Posisi cuaca basah membuat ketebalan daun tembakau berbeda dari tahun-tahun sebelumnya," kata Harno saat dikonfirmasi awak media.
Ia menjelaskan, tahun lalu cuaca lebih ideal sehingga kualitas bagus dan ketebalan daun memenuhi syarat. Namun, tahun ini, mitra usaha melaporkan adanya perbedaan kualitas karena faktor kebasahan.
Akibatnya, harga penjualan ikut menyesuaikan. "Apabila kualitasnya bagus, harganya juga akan menyesuaikan. Semua tergantung kualitas," terang Harno.
Agus Iwan menambahkan, luas tanam tembakau tahun lalu 7.400 hektare, naik menjadi 8.400 hektare tahun ini. Namun, karena cuaca, sebagian panen tidak optimal, sehingga kuantitas sedikit menurun.
"Rata-rata, jika kondisi bagus, bisa mencapai 2 ton per hektare. Tahun ini sedikit berkurang. Kami telah berkomunikasi dengan Sadhana, dan memang ada penurunan kualitas karena cuaca. Tapi di panen terakhir, ketika matahari mulai terik, grade tembakau mulai meningkat lagi," imbuhnya. (noe/ali)
Editor : Mahendra Aditya