REMBANG – Bupati Rembang kemarin menandai awal musim tanam (MT) 1 2025/2026 di Kabupaten Rembang sekaligus meresmikan Program Gerakan Listrik Masuk Sawah (Gelisah) di Desa Waru, Kecamatan Rembang.
Dalam acara tersebut, Bupati Harno turut mencoba dan mengemudikan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern, seperti rotavator dan riding trasplanter.
"Gagah, mantap, dan hasilnya lebih cepat serta efisien. Kerja cepat dan efisien. Selama ini kita sering pakai traktor model lama. Ini bisa langsung mencacah tanah, lebih praktis," kata Bupati Harno, didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Agus Iwan Haswanto, saat mengendarai alsintan tersebut.
Harno mengaku tidak sulit mengemudikan alsintan tersebut. Ia hanya butuh 1-2 jam belajar, sedangkan anak muda bisa menguasainya dalam hitungan menit setelah evaluasi dan penyesuaian.
Menurutnya, kemajuan teknologi ini penting untuk mengatasi kesulitan mencari tenaga kerja pertanian.
Bupati, yang memiliki sawah sendiri, sering kesulitan mencari pekerja tandur dari luar daerah. Dengan alsintan, masalah ini bisa teratasi cepat.
"Kadang butuh traktor juga masih memerlukan bantuan dari desa lain. Tiap desa tidak mencukupi karena musim tanam masih tadah hujan. Adanya alsintan membantu agar semuanya tertangani dengan cepat," ungkapnya.
Harno juga merespons positif program Gelisah.
Ia menekankan kebutuhan masyarakat, tidak hanya di Desa Waru, tetapi juga di Karangharjo, Sulang, Kuangsan, dan Kaliori.
Petani di daerah seperti Karangharjo dan Kuangsan sering mengalami kesulitan di sawah-sawah yang semrawut, termasuk risiko bahaya saat malam hari.
“Atas nama Pemkab Rembang, kami mengucapkan terima kasih kepada PLN dan berharap program ini diperluas ke tempat lain,” tambahnya.
Kepala Dintanpan Agus Iwan Haswanto melaporkan bahwa Gelisah saat ini telah berjalan di Kasreman, Waru (Rembang), dan Tegaldowo, Gunem.
Beberapa desa lain akan menyusul. "Dari awal pengajuan, petani sudah berkomitmen. Ketika ada fasilitas listrik, harus digunakan sebagaimana mestinya. Kita hindari penggunaan jebakan tikus yang berbahaya. Kami terus sosialisasi, menegaskan kepada petani, dan melakukan monitoring," imbuhnya.
Agus menambahkan, pengajuan program dilakukan secara bersamaan dengan mengetahui kepala desa, lalu direkomendasikan oleh dinas teknis agar PLN dapat menindaklanjuti dengan cepat di lapangan.
Manager PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Rembang, Jati Kuncahyo, menjelaskan bahwa Gelisah menggunakan tarif industri kecil, yang lebih murah dibanding tarif nonsubsidi. Biaya pemasangan baru sama dengan pemasangan lainnya.
"Ini murni perluasan tiang, trafo, dan jaringan oleh PLN, bukan dibebankan ke pelanggan. Tarifnya Rp 1.050 per kWh untuk daya 1.300, dengan meteran prabayar," katanya. (noe/ali)
Editor : Ali Mustofa