REMBANG – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Rembang selama dua hari berturut-turut menimbulkan sejumlah bencana.
Jalur Pantura di kawasan Lasem sempat tergenang air, sementara tanah longsor terjadi di Desa Dowan, Kecamatan Gunem.
Kondisi ini cukup mengganggu aktivitas warga, terutama di jalur Pantura yang hingga kini masih menjadi titik rawan genangan.
Di ruas Jalan Pantura Lasem, tepatnya di timur Jembatan Bagan, air sempat meluap hingga ke trotoar pada hari pertama hujan turun deras.
Sejumlah pengendara sepeda motor bahkan terpaksa naik ke trotoar agar bisa melintas.
Meski demikian, genangan tidak berlangsung lama dan surut sekitar 15–20 menit kemudian.
“Benar, sempat banjir sore itu, tapi cepat surut. Kejadiannya sekitar pukul tiga sampai setengah empat sore,” ujar Stevanus, warga Lasem, saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus, Rabu (22/10).
Ia menjelaskan, kondisi jalan yang tidak rata serta sambungan aspal berlubang menjadi penyebab utama air mudah menggenang di titik tersebut.
Meski telah beberapa kali dilakukan perbaikan, permasalahan ini belum tuntas.
Hal senada disampaikan Kapolsek Lasem AKP M.S. Karim, yang membenarkan adanya genangan di sebagian jalur Pantura pada Selasa sore.
Namun, pada Rabu sekitar pukul 16.15 WIB, air di depan SD Wijaya Lasem telah surut.
“Lalu lintas tetap lancar meski hujan cukup deras. Semoga tidak terulang lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, bencana tanah longsor terjadi di Jalan Raya Trembes–Tegaldowo, tepatnya di kawasan Picis.
Material tanah dari tebing di sisi jalan ambruk dan menutup sebagian badan jalan, disertai pohon tumbang.
Warga bersama aparat kepolisian langsung bergerak membersihkan material longsoran agar jalur bisa kembali dilalui.
“Longsor dan pohon tumbang terjadi sekitar pukul dua siang. Jalur kini sudah bersih dan kendaraan bisa lewat lagi. Hujan masih turun ringan sampai sore,” terang Kapolsek Gunem Iptu Yayat Supriyanto.
Kepala Pelaksana BPBD Rembang, Sri Jarwanti, mengaku pihaknya belum menerima laporan resmi terkait longsor di Dowan.
Namun, menurutnya, wilayah tersebut termasuk dalam program Desa Tangguh Bencana (Destana), sehingga warga terbiasa melakukan penanganan awal secara mandiri.
“Kami sedang memastikan ke lapangan. Kalau tidak ada laporan masuk, kemungkinan sudah ditangani langsung oleh warga desa,” jelasnya.
Sri juga menyebutkan bahwa BMKG telah memprediksi potensi cuaca ekstrem terjadi pada 19–22 Oktober 2025.
Jawa Tengah, termasuk Rembang, kini mulai memasuki musim penghujan dengan intensitas curah hujan di atas normal.
Untuk langkah antisipasi, BPBD akan menggelar rapat koordinasi bersama pemerintah desa rawan bencana serta dinas terkait.
“Kami mengimbau masyarakat tetap siaga menghadapi potensi banjir dan longsor,” tegasnya.
Kamis pagi (23/10), tim BPBD Rembang turun langsung meninjau lokasi genangan di sekitar SD Wijaya, Lasem.
Mereka berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) guna memperbaiki sistem drainase yang diduga tidak berfungsi optimal.
“Kami terus berkoordinasi agar permasalahan drainase segera ditangani,” pungkas Sri Jarwanti. (noe/ali)
Editor : Ali Mustofa