REMBANG – Kebakaran hebat melanda tempat produksi gula tebu tradisional di Dusun Rombo, Desa Gegersimo, Kecamatan Pamotan, pada Jumat malam (3/10).
Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Rembang berjibaku selama lima jam untuk memadamkan api, menghabiskan tujuh rit air.
Tidak ada korban jiwa, namun bangunan, peralatan, dan 27 ton gula ludes terbakar, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp820,8 juta.
Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 20.14 WIB. Pemilik usaha, Syued Has yim (52), warga RT 1/RW 1, Desa Gegersimo, menjadi pihak yang terdampak.
Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, kebakaran diduga dipicu korsleting listrik.
Bahan-bahan mudah terbakar, seperti minyak dan ampas tebu, membuat api sulit dipadamkan.
“Ampas tebu menjadi bahan bakar, begitu pula hasil produksi gula. Ini menyulitkan proses pemadaman,” ujar Kepala Bidang Pemadaman Kebakaran BPBD Rembang, Erwin Rahadyan, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus pada Sabtu (4/10).
Petugas Damkar membentuk tiga tim untuk memadamkan api dari beberapa titik. Mereka juga berkoordinasi dengan kepolisian, TNI, dan pemilik usaha untuk memantau hingga api benar-benar padam.
“Begitu bahan bakar habis, api akan padam dengan sendirinya,” jelas Erwin.
Lokasi kebakaran yang tidak berdempetan dengan permukiman menjadi pertimbangan petugas untuk kembali ke posko setelah pemadaman selesai pada pukul 01.30 WIB.
Total kerugian mencakup berbagai aset. Rinciannya, bangunan rumah produksi ditaksir rugi Rp 500 juta, gula belum dikemas (1–2 ton) Rp 10,8 juta, gula dalam kemasan (25 ton) Rp225 juta.
Bahan baku tebu Rp5 juta, mesin produksi Rp 40 juta, mesin blower pemindah sampah Rp 20 juta, dan ampas tebu (25 rit) Rp20 juta. (noe)
Editor : Ali Mustofa