REMBANG – Balai Latihan Kerja (BLK) Rembang sudah berdiri sejak 43 tahun.
Gedung saat ini alami kerusakan kategori berat hingga sedang. Lebih dari separo rusak parah. Dan sudah lama tidak difungsikan demi keselamatan.
Kerusakan gedung berada di sisi selatan. Kayu bagian atas termakan rayap.
Untuk genting sekilas masih utuh, modelnya pabrikan. Itu terakhir kerusakan yang parah. Dulunya ruangan itu digunakan jurusan las.
Gedung itu berlokasi persis dibelakang Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Kabupaten Rembang.
Beberapa kali usulan revitalisasi sudah dilakukan. Namun belum bisa diwujudkan, menyesuaikan ketersediaan anggaran pemerintah.
Dari catatan Jawa Pos Radar Kudus ini gedung yang utuh hanya dua bangunan. Lainnya nyaris tidak bisa dimanfaatkan karena termakan usia.
Untuk yang jahit dan proses makanan dan minuman serta AC masih layak, lainnya kondisinya membahayakan.
Kepala Dinperinaker Rembang, Dwi Martopo kurang paham persis kapan robohnya gedung BLK dibelakang kantornya. Kemungkinan sebelum tahun 2017.
Saat itu digunakan kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmingrasi (Dinsosnakertrans).
Saat kepemimpinan masuk di kantor setempat kondisinya sudah roboh. ”Kerusakan ini sudah di infokan minimal ada tindakan. Atau percepatan pembangunanya,” harapanya.
Karena biaya besar nantinya bersumber Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Jika melihat usia bangunan tahun 1982. Saat ini sudah tahun 2025. Artinya sudah 43 tahun gedung BLK berdiri.
Bangunan bisa bertahan. Tembok masih bagus. Hanya atap. Kalau pemeliharaan atap tidak update.
”Jenengan bisa berinfo ke Bappeda, sejauh ini revitaliasi BLK sudah masuk bahasan di Musrenbangwil di Pati beberapa waktu lalu,” terangnya.
Sementara pantauan koran ini gedung BLK belum ada sentuhan. Meski demikian kegiatan pelatihan dari pemerintah pusat tetap jalan.
Untuk perawatan tidak ada fisik, sifatnya hanya pembersihan lingkungan, salah satunya pemotongan rumput.
”Kerusakan awal digedung bengkel jahit. Itu satu paket dua bangunan, dipergunakan bengkel jahit, pertukangan dan pendingin,”kata salah satu petugas kebersihan, Jul.
Lebih lanjut diinformasikan di ruang tengah digunakan las. Kemudian otomotif sepeda motor dan mobil.
Untuk ruang las sebelumnya berada di ujung selatan gedung. Saat ini rusak berat. Kayu diatas dimakan rayap.
”Genting bagus. genting cor. Kayu tidak kuat, dimakan rayap. Untuk yang sebelah utara masih fungsi,” imbuhnya.
Terkait kondisi BLK Rembang menjadi perhatian Bupati Rembang, Harno.
Harno mengajukan proyek strategis 2026 kepada Pemprov Jateng sekira Rp 96,9 miliar.
Salah satunya terkait BLK. Usulan sudah pernah disampaikan dihadapan Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi. (wisnu aji)
Editor : Ali Mustofa