Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

ABK di Rembang Dibacok Saat Tidur di Kapal! Pelaku Lompat ke Laut dan Hilang, Diduga Alami Gangguan Jiwa

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 5 Juni 2025 | 14:39 WIB

 

Ilustrasi pembacokan
Ilustrasi pembacokan

RADAR KUDUS - Pelaku, Mohammad Alfaridzi (26), warga Desa Padaran, Rembang, secara tiba-tiba menyerang dua ABK lainnya, Santoso dan Dany Nur Wachid, dengan sebilah bendo.

Kedua korban menderita luka serius di bagian leher dan kaki saat sedang beristirahat di ruang palka depan kapal.

Setelah aksinya, pelaku melempar senjata ke laut lalu menceburkan diri dan menghilang ditelan gelapnya malam.

Upaya penyelamatan sempat dilakukan kru kapal dengan melempar pelampung, namun Alfaridzi justru berenang menjauh mengikuti arus laut.

Baca Juga: Rp124 Miliar Sudah Cair! Ini 51 Desa di Rembang yang Dapat Dana Desa 2025 Lebih dari Rp1 Miliar! Desa Sumber dapat yang Paling Tinggi

Riwayat Gangguan Mental yang Terabaikan

Menurut keterangan dari pihak kepolisian dan kesaksian sejumlah awak kapal, Alfaridzi dikenal sebagai sosok yang tertutup dan jarang berinteraksi.

Jika diajak berbicara, hanya menjawab singkat—"iya" atau "tidak". Kepala Desa Padaran bahkan mengonfirmasi bahwa pelaku pernah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa selama dua minggu, tak lama setelah perceraiannya.

“Benar, pelaku punya riwayat kejiwaan. Dia baru ikut melaut sebanyak tiga kali,” ujar Kasat Polairud AKP Mundhi.

Tak hanya itu, latar belakang kehidupan pribadi pelaku juga cukup kelam. Ia baru bercerai dan kembali tinggal bersama orang tuanya.

Kondisi mental yang rapuh tersebut diduga menjadi pemicu aksi nekatnya di tengah laut.

Baca Juga: Sampai Jumpa Persikas Subang, Diakuisisi dan Berubah Nama Menjadi Sumsel United, Bermarkas di Palembang

Teror Membisu di Tengah Laut

KM Jaya Makmur yang membawa 16 kru, termasuk nahkoda, awalnya hendak melaut untuk menangkap ikan selama 20–25 hari. Namun malam tragis itu mengubah segalanya.

Insiden pembacokan mengakibatkan kapal terpaksa membatalkan misinya dan kembali ke Pelabuhan Tasikagung, Rembang.

Dua korban segera dilarikan ke RSUD dr. R. Soetrasno Rembang untuk mendapatkan perawatan.

Beruntung, keduanya hanya menjalani rawat jalan dan bisa dimintai keterangan oleh Satpolairud pada Senin malam.

Operasi Pencarian: Harapan yang Mulai Menipis

Sejak pelaku menceburkan diri ke laut, pencarian intensif langsung dilakukan. Kru kapal, dibantu empat kapal nelayan, menyisir perairan sekitar 115 mil dari Pantai Tasikagung.

Mereka bahkan menggunakan lampu senter untuk menyapu permukaan air, namun pelaku tak juga ditemukan.

Baca Juga: Here We Go! Manchester City Resmi Dapatkan Tijjani Reijnders, Bajak Gelandang Terbaik Serie A dari AC Milan

Pencarian sempat dihentikan sementara karena kondisi korban yang membutuhkan penanganan medis. Kapal kembali ke pelabuhan pada Senin sore. Hingga Selasa, 3 Juni 2025, keberadaan Alfaridzi masih misterius.

“Semua pihak berharap pelaku segera ditemukan, baik hidup atau tidak, agar proses hukum bisa berjalan,” ungkap AKP Mundhi.

Ke depan, pencarian akan melibatkan Basarnas dan TNI AL, menyusul upaya awal yang belum membuahkan hasil.

Kapan Perlindungan Kesehatan Mental Diutamakan?

Insiden ini mengangkat kembali isu serius: minimnya perhatian terhadap kondisi mental para pekerja di sektor maritim.

Di tengah tekanan kerja dan isolasi selama berlayar, risiko meledaknya gangguan psikologis sangat besar. Sayangnya, tidak semua pelaku industri memperhatikan aspek ini.

Jika saja riwayat kesehatan mental Alfaridzi diperhatikan lebih dalam sebelum ia diberangkatkan melaut, mungkin tragedi ini bisa dihindari.

Pihak keluarga, kepala desa, dan rekan kerja sudah mengetahui kondisinya, namun tidak ada pengawasan atau evaluasi medis yang memadai sebelum keberangkatan.

Kronologi Singkat Insiden:

  • Rabu, 14 Mei 2025: Kapal KM Jaya Makmur bertolak dari Pelabuhan Tasikagung, Rembang.

  • Sabtu, 31 Mei 2025, Pukul 21.30 WIB: Dua ABK dibacok saat tidur oleh Alfaridzi.

  • Setelahnya: Pelaku kabur ke buritan kapal dan melompat ke laut.

  • Minggu, 1 Juni 2025, Pukul 02.00 WIB: Kapal nelayan sekitar diminta bantu pencarian.

  • Pukul 18.00 WIB: Pencarian dihentikan, kapal kembali ke pelabuhan.

  • Senin, 2 Juni 2025: Korban diperiksa di RSUD Rembang dan dimintai keterangan oleh kepolisian.

Tragedi yang Seharusnya Bisa Dicegah

Kisah kelam di perairan Karimunjawa ini bukan hanya soal kekerasan mendadak, tetapi juga cerminan dari kegagalan sistem dalam mendeteksi dan menangani kesehatan jiwa secara serius.

Pelaut bukan hanya butuh kekuatan fisik, tapi juga kestabilan mental.

Kini, satu nyawa masih hilang di laut, dua lainnya menyimpan trauma, dan satu pertanyaan besar mengapung di permukaan: sampai kapan kondisi kejiwaan dianggap sepele, padahal taruhannya nyawa? 

Editor : Mahendra Aditya
#pembacokan ABK #pelaku gangguan jiwa #kasus pembacokan kapal #insiden kapal Karimunjawa #rembang #ABK diserang #pembacokan ABK di Rembang #tragedi ABK dibacok