REMBANG – Di tengah gegap gempita menyambut Idul Adha, terselip sebuah kisah luar biasa dari desa sunyi di Rembang, Jawa Tengah.
Seekor sapi super jumbo bernama Bulki, dengan bobot mencapai 900 kilogram, resmi dipilih menjadi hewan kurban Presiden Prabowo Subianto tahun ini.
Namun, yang menarik bukan cuma ukurannya, melainkan perjalanan dan keberuntungan yang menyertainya.
Dari Kandang Sederhana ke Pilihan Presiden
Bulki bukan berasal dari peternakan megah atau milik korporasi besar. Ia dibesarkan di kandang milik Nur Hasan, seorang peternak lokal di Desa Bogorejo, Kecamatan Sedan.
Dengan tekun dan konsisten, Nur Hasan merawat sekitar 50 ekor sapi di peternakan miliknya, dan dari seluruh koleksi ternaknya, Bulki-lah yang paling menonjol.
“Saya ambil Bulki dari Jatirogo, Tuban. Masih remaja waktu itu, tapi insting saya bilang ini sapi bakal luar biasa.
Saya rawat enam bulan dengan pola makan dua kali sehari, tidak ada perlakuan khusus. Tapi dia tumbuh lebih cepat dan besar dibanding sapi lainnya,” jelas Nur Hasan.
Bulki, Sapi yang Punya Nama dan Takdir Besar
Menariknya, semua sapi di kandang Nur Hasan punya nama. Ada Deva, Gembong, dan tentu saja Bulki si raksasa jinak.
Setiap nama bukan hanya penanda, tapi menunjukkan karakter dan ciri khas masing-masing. Dan di antara semuanya, Bulki mencuri perhatian dengan tubuh besar, tenang, dan sehat.
Kesehatan dan bobot adalah kunci. Ketika Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Rembang membuka kesempatan bagi setiap kabupaten untuk mengajukan calon hewan kurban presiden, Nur Hasan langsung memikirkan Bulki.
“Syaratnya berat minimal 800 kilogram dan sehat secara menyeluruh. Bulki memenuhi semua. Saya tawarkan ke dinas, lalu diajukan ke provinsi,” ungkap Nur Hasan.
Tak tanggung-tanggung, ia juga mematok harga Rp 85 juta untuk sapi andalannya. Dan itu pun langsung disetujui pihak istana.
Seleksi Ketat, Bulki Lolos
Kepala Dintanpan Rembang, Agus Iwan, menyampaikan bahwa proses seleksi sangat ketat. Beberapa sapi di wilayah Rembang disaring, dan hanya satu yang lolos ke tingkat provinsi. “Kami kirim beberapa kandidat.
Tapi memang Bulki paling unggul. Jenis simental, berat lebih dari 900 kilogram, dan kesehatannya selalu dipantau,” kata Agus.
Proses seleksi melibatkan verifikasi administratif hingga pemeriksaan medis. Bulki pun lolos dari semua tahap tersebut.
Dan kini, pemiliknya telah diminta menyelesaikan dokumen pemberkasan. Pertanda jelas bahwa sapi ini sah menjadi hewan kurban Presiden Prabowo.
Baca Juga: Bansos PKH & BPNT Tahap 2 Sudah Cair! Cek Nama Anda, 1,8 Juta Penerima Dicoret, Diganti Nama Baru!
Akan Disembelih di Pancur, Simbol Pengorbanan dari Desa untuk Negeri
Rencananya, Bulki akan disembelih di Masjid Baitul Muttaqin, Desa Sumber Agung, Kecamatan Pancur, tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Selama masa menunggu, tim kesehatan hewan dari dinas akan terus mengawasi kondisi fisiknya.
“Kesehatannya dijaga ketat. Saya juga minta dinas untuk bantu cek rutin. Jangan sampai ada gangguan menjelang hari H,” ujar Nur Hasan.
Dari Desa ke Panggung Nasional: Simbol Kerja Keras dan Keberkahan
Kisah Bulki adalah lebih dari sekadar tentang sapi berbobot jumbo. Ini tentang bagaimana seorang peternak desa dengan keterbatasan bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Tentang bagaimana kerja keras, ketekunan, dan kepedulian pada hewan bisa membawa hasil hingga diakui oleh negara.
“Tidak pernah saya bayangkan, sapi dari kandang kecil saya bisa jadi hewan kurban presiden. Ini luar biasa. Semoga jadi berkah bagi kami dan semua yang menyaksikan,” ucap Nur Hasan penuh syukur.
Dengan tubuh gagah, warna cokelat-putih khas simental, dan bobot nyaris satu ton, Bulki kini bukan sekadar sapi desa. Ia adalah simbol pengorbanan dari rakyat untuk pemimpin, dari desa kecil untuk Indonesia.