Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Temuan Menarik, Pegiat Sejarah Menelisik Jejak Wong Kanung yang Hidup di Pegunungan Lasem Rembang Ribuan Tahun Lalu

Vachri Rinaldy • Jumat, 25 April 2025 | 01:22 WIB
NAPAK TILAS: Danang Swastika berada di dalam Tapaan Santibadra di Desa Warugunung, Pancur
NAPAK TILAS: Danang Swastika berada di dalam Tapaan Santibadra di Desa Warugunung, Pancur

RADAR KUDUS - Cerita menyebutkan adanya manusia yang tinggal di kawasan pegunungan Lasem beribu tahun yang lalu. 

Kisah itu memantik semangat pegiat sejarah untuk menelisik peninggalan mereka, yang disebut sebagai Wong Kanung itu. 

Danang Swastika, salah satu pegiat sejarah di Lasem mengajak bertemu di sebuah bukit yang ada di Desa Warugunung, Pancur. Tempat itu terasa adem dan asri. 

Tempat ini berada di kawasan perbukitan Gunung Argopuro. Di atas sini terdapat sebuah bangunan yang disebut sebagai Tapaan Santibadra. 

Di dalam bangunan tersebut terdapat kubur punden leluhur Kanung Argasoka. 

Ada sejumlah nama-nama yang tertulis. Diantaranya Eyang Ki Seng Dhang, Eyang Hang Sam Badra, Eyang Dewi Sie Ba Ha, Eyang Rangga Widyabadra, dan Eyang Mpu Guru Pr. Santibadra. 

Bicara soal Kanung, Danang menjelaskan, tidak bisa dilepaskan dari era Kerajaan Pucangsula. Kisah ini termuat dalam sebuah buku ”Sejarah Kawitane, Wong Jawa lan Wong Kanung”. 

Naskah dari buku tersebut berbahasa Jawa, ditulis oleh Mbah Guru. Danang menjelaskan, Mbah Guru merupakan tokoh spiritual yang ada di Lasem. 

Ia menyadari kalau buku tersebut masih bersifat sebagai cerita. Meski begitu, para pegiat sejarah memiliki semangat untuk menelisik lebih lanjut dengan terjun ke lapangan, berharap bisa mendapatkan temuan-temuan pendukung. 

"Itu kan baru bacaan. Kalau buku bacaan itu nanti ditunjang dengan temuan, itu nanti akan memperkuat keberadaan buku ini. Buku itu seumpama kami konekkan dengan bukti-bukti dilapangan itu masuk," jelasnya. 

Danang bercerita, ratusan tahun sebelum masehi, ada tokoh bernama Ki Seng Dhang yang berasal dari luar Jawa. Ia mengajak masyarakat untuk berpindah tempat.

Arah angin membawa perjalanan mereka sampai ke daratan Lasem lalu bermukim di area pegunungan. 

Dari situlah kemudian terbentuk komunitas turun-temurun hingga masuk era tokoh yang bernama Hang Sambadra, yang nantinya berkembang menjadi kerajaan Pucangsula. 

"Kalau di buku kawitan (Hang Sambadra) masih trah dengan Ki Seng Dhang. Walaupun memang dibuku itu tidak diperjelas alur nasabnya," jelasnya. 

Komunitas masyarakat di era Pucangsula ini, lanjut Danag, kemudian disebut dengan Sengkaning Gunung (Kanung). 

Sebab mereka tinggal di gunung-gunung. "Peradaban Pucangsula itu di atas gunung. Soalnya pantainya tidak landai. Makannya era Pucangsula ini identik dengan Kanung. Sengkaning Gunung. Saka gunung," jelasnya. 

Konon, orang-orang Kanung sudah membuat hunian-hunian sederhana. Para pegiat sejarah juga menemukan beberapa benda seperti susunan batu-batu besar.  

"Mereka sudah membuat hunian-hunian meskipun sederhana. Makannya temuan-temuan di atas gunung banyak sekali. Batu lumpang, susunan batu-batu besar," jelasnya. 

Para pegiat sejarah masih bersemangat menelisik potensi temuan-temuan lain. 

Beberapa waktu lalu, juga telah ditemukan gua yang diperkirakan sebagai tempat belajar orang-orang kanung. Hanya saja, gua tersebut belum sempat terdokumentasikan. 

Pegiat sejarah menduga jika gua tersebut pernah ditempati orang-orang kanung karena melihat adanya bekas-bekas melebarkan ukuran gua. 

"Guanya itu ditata, artinya ada aktifitas sengaja dibuat. Atau mungkin dulu gua itu kecil, diperlebar. Kemungkinan dimanfaatkan gua pamulang, tempat pengajar," jelasnya. 

Danang menjelaskan, orang-orang kanung sudah mengenal kegiatan spiritual. Ajarannya diberi nama Whuning, yang identik dengan bersemedi. 

"Karena orang-orang Whuning itu yang identik dengan ritus bersemedi. Orang-orang kanung," katanya. 

Selain itu, juga ada cerita jika sosok Hang Sam Badra merupakan pemimpin yang konsen pada pendidikan. 

"Hang Sam Badra itu lebih konsen pada pendidikan. Makannya pada era Hang Sam Badra itu ada sapta wisayata. Tujuh pembelajaran," jelasnya. 

Para pegiat sejarah pun masih semangat terjun ke lapangan untuk menelisik temuan-temuan lebih lanjut. Ia berpendapat, keberadaan buku Sejarah Kawitan Wong Jawa lan Wong Kanung ini bisa menjadi magnet untuk mengembangkan sebuah penelusuran atau penelitian. (*) 

Editor : Ali Mustofa
#sejarah #Cerita Wong Kanung #sejarah lasem #Sejarah Rembang #Wong Kanung