LASEM, Radar Kudus – Gagasan tak biasa muncul dalam talk show yang digelar di kompleks Klenteng Cu An Kiong, Lasem, Jumat (18/4) malam.
Tokoh nasional Dahlan Iskan, peneliti kajian Islam di Tiongkok Novi Basuki, dan tokoh Tionghoa Harjanto Halim hadir membahas isu keberagaman.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah usulan menggelar lomba debat dakwah berbahasa Mandarin yang langsung disambut hangat.
Talk show tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun Makco Thian Siang Sing Bo, dewi pelindung dalam tradisi Tionghoa, yang dipusatkan di Klenteng Cu An Kiong. Acara puncaknya akan digelar hari ini (19/4) dengan kirab budaya yang melibatkan Kiem Sin dari 70 daerah.
Antusiasme warga tampak memadati kompleks klenteng malam itu. Obrolan lintas budaya, agama, dan bahasa mengalir gayeng namun tetap mendalam, mengangkat topik keberagaman dalam konteks kebangsaan.
Baca Juga: Konselor Terima Laporan Korban Histeris, Dinsos Intens Dampingi Kasus Asusila Guru Ngaji di Rembang
Santri Debat dengan Bahasa Mandarin
Dalam diskusi, Dahlan Iskan menyampaikan gagasannya bersama Novi Basuki untuk menyelenggarakan lomba debat dakwah dalam bahasa Mandarin dengan peserta para santri. Menurutnya, sudah banyak santri dan siswa madrasah yang memiliki kemampuan berbahasa Mandarin.
“Kami akan adakan lomba debat tentang dakwah dalam bahasa Mandarin. Pesertanya harus santri, harus dari madrasah,” ucap Dahlan yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.
Gagasan tersebut diperkuat oleh Novi Basuki, yang menekankan pentingnya keterbukaan terhadap budaya lain sebagai bentuk kemajuan bangsa.
Ia menilai, sikap tertutup terhadap perubahan global justru akan menjauhkan Indonesia dari cita-cita menjadi negara maju pada 2045.
“Kalau kita hanya bangga dengan diri sendiri, tapi tidak mau belajar dari bangsa lain, itu justru menciptakan generasi cemas, bukan generasi emas,” tegas Novi.
Tionghoa Nyanyi Ya Lal Wathan, Santri Fasih Mandarin
Merespons gagasan tersebut, Harjanto Halim menambahkan sentuhan simbolik dengan menyanyikan lagu Ya Lal Wathan, lagu nasionalisme populer di kalangan santri. Aksi spontan ini menjadi bentuk penghargaan terhadap keberagaman dan keterbukaan.
“Kalau santri-santri bisa berbahasa Mandarin, maka orang Tionghoa juga harus bisa menyanyikan Ya Lal Wathan,” ujar Harjanto, disambut gelak tawa dan tepuk tangan.
Ia menambahkan, keberagaman budaya seharusnya menjadi jembatan, bukan sekat. “Kalau yang muslim dan Jawa bisa belajar sampai ke negeri Cina, maka yang Tionghoa juga harus mau memahami budaya dan tradisi Islam serta masyarakat Jawa,” ujarnya.
Lasem, Ruang Dialog Keberagaman
Perhelatan di Klenteng Cu An Kiong Lasem menjadi momen penting dalam memperkuat nilai-nilai toleransi dan keterbukaan budaya.
Lasem, sebagai kota tua yang dikenal sebagai miniatur kerukunan etnis dan agama, kembali menunjukkan perannya sebagai ruang dialog kebangsaan.
Dengan semangat gotong royong dan keterbukaan terhadap perbedaan, Lasem memberi contoh nyata bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih inklusif.
Editor : Mahendra Aditya