Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Heboh Syawalan di Rembang! Pawai Budaya Desa Tasikagung Serap 10 Ribu Pengunjung, Taman Kartini Disulap Jadi Pusat Hiburan

Wisnu Aji • Selasa, 8 April 2025 | 14:57 WIB

Arak-Arak Pawai Budaya Tasikagung
Arak-Arak Pawai Budaya Tasikagung

REMBANG – Gegap gempita perayaan tradisi Syawalan di Kabupaten Rembang tahun ini benar-benar mencuri perhatian.

Masyarakat tumpah ruah menyaksikan pawai budaya Desa Tasikagung, yang sukses menyedot lebih dari 10 ribu pengunjung dari berbagai penjuru daerah.

Tak hanya itu, Taman Kartini, destinasi ikonik di kota garam, turut diramaikan dengan kehadiran pasar malam yang menjadi magnet hiburan rakyat.

Momentum pasca-Lebaran ini dimanfaatkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang sebagai sarana untuk menghidupkan kembali denyut wisata lokal sekaligus menjaga kearifan budaya tradisional yang hampir pudar.

Baca Juga: Pantura Lumpuh 3,5 Jam! Ribuan Warga Padati Pawai Budaya Sedekah Laut Tasikagung Rembang


Tradisi Sedekah Laut yang Disulap Jadi Pesta Rakyat

Kepala Dinbudpar Rembang, Mutaqin, menjelaskan bahwa pawai budaya yang digelar merupakan bagian dari tradisi sedekah laut yang telah turun-temurun dilaksanakan oleh masyarakat pesisir Desa Tasikagung.

Dalam kemasan baru, tradisi ini disinergikan dengan momen Syawalan, yang dikenal luas sebagai perayaan tujuh hari setelah Idulfitri.

"Harapan awal kami, pengunjung mencapai 5.000 hingga 10.000 orang. Namun melihat antusiasme masyarakat dan wisatawan, ternyata jumlahnya jauh melampaui itu," ujar Mutaqin kepada Radar Kudus.


Sinergi Tradisi dan Wisata: Strategi Jitu Tarik Wisatawan

Dinbudpar mengakui bahwa kegiatan ini bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga merupakan strategi untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke Rembang.

Pengunjung tak hanya datang dari lingkup lokal, tapi juga regional — bahkan dari luar Jawa Tengah.

“Event seperti ini secara langsung menggeliatkan ekonomi kreatif lokal. Mulai dari pedagang kaki lima, penjual oleh-oleh, hingga pelaku seni mendapat imbas positif,” jelas Mutaqin.

Momentum ini juga memberi ruang promosi bagi pelaku UMKM, yang mengisi berbagai stan di area pawai dan pasar malam.


Taman Kartini Jadi Sorotan: Hidupkan Kembali Wisata Tua

Tak berhenti di Desa Tasikagung, lonjakan pengunjung juga terasa hingga Taman Kartini, yang dikenal sebagai salah satu destinasi tertua di Rembang.

Di tempat ini, pengunjung menikmati suasana pasar malam yang diikuti lebih dari 100 pedagang dari dalam maupun luar kota.

Even ini berlangsung selama sembilan hari, mulai 1 hingga 9 April 2025. “Masih ada dua hari tersisa untuk masyarakat menikmati pasar malam dan wahana hiburan lainnya,” kata Mutaqin.


Revitalisasi Taman Kartini Terkendala Anggaran

Di tengah euforia, terselip tantangan besar: kondisi fisik Taman Kartini yang sudah banyak mengalami kerusakan. Rencana revitalisasi sudah masuk dalam agenda, namun anggaran terbatas membuat pelaksanaannya harus ditunda.

"Arahan dari pimpinan daerah saat ini adalah efisiensi anggaran. Maka proyek-proyek non-prioritas ditangguhkan dulu, termasuk peremajaan Taman Kartini," ungkap Mutaqin.

Namun demikian, Dinbudpar tetap berkomitmen menghidupkan kembali Taman Kartini melalui kerjasama dengan pihak ketiga.

Event Syawalan tahun ini menjadi bukti bahwa keterbatasan dana bukan halangan untuk terus menghidupkan potensi wisata lokal.

Baca Juga: Mandi di Perairan Mandalika, Wisatawan Asal Donorojo Jepara Dikabarkan Hilang, Begini Kronologinya

TRADISI: Peserta pawai sedekah laut menyebrang jalan pantura. Satu sisi masyarakat berjubel untuk melintas di jembatan Karanggeneng, kemarin.
TRADISI: Peserta pawai sedekah laut menyebrang jalan pantura. Satu sisi masyarakat berjubel untuk melintas di jembatan Karanggeneng, kemarin.


Kolaborasi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Seremonial

Langkah Dinbudpar Rembang untuk menggandeng komunitas, seniman lokal, pelaku UMKM, hingga sponsor swasta menjadi model kolaborasi yang patut dicontoh.

Alih-alih bergantung penuh pada APBD, mereka memanfaatkan potensi lokal untuk menciptakan event yang berdampak besar.

“Bagi kami, tidak cukup hanya menjaga tradisi lewat seremonial. Harus ada dampak ekonomi dan sosial. Masyarakat juga harus menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton,” tegas Mutaqin.


Warisan Budaya, Investasi Pariwisata Masa Depan

Apa yang terjadi di Tasikagung dan Taman Kartini hanyalah salah satu contoh bagaimana warisan budaya bisa diolah menjadi daya tarik wisata yang menjanjikan.

Apalagi di era digital, eksistensi tradisi semacam ini bisa menjadi konten viral yang memperkenalkan Rembang ke khalayak lebih luas.

Dengan konsistensi dan pembinaan yang tepat, event tahunan seperti Syawalan dan Sedekah Laut bisa menjadi ikon pariwisata budaya Kabupaten Rembang, setara dengan Grebeg Maulid di Demak atau Sekaten di Yogyakarta.


Lebih dari Sekadar Hiburan

Pawai budaya di Tasikagung dan pasar malam di Taman Kartini adalah manifestasi kebangkitan wisata lokal.

Mereka bukan sekadar ajang hiburan, tetapi simbol kolaborasi, pelestarian budaya, dan penggerak ekonomi rakyat.

Pemkab Rembang bersama Dinbudpar telah menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat, keterbatasan anggaran bukan penghalang. Justru menjadi tantangan untuk berinovasi demi masa depan pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kini, tinggal bagaimana konsistensi menjaga momentum ini agar tidak padam seiring waktu. Karena budaya adalah jati diri, dan wisata adalah jendela untuk mengenalkannya pada dunia. (noe)

Editor : Mahendra Aditya
#Pawai Budaya Desa Tasikagung #pawai budaya #wisata rembang #syawalan #rembang #desa tasikagung #tradisi syawalan #Syawalan 2025