Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Soroti Penambang Liar di Rembang, Mantan Konsultan Tambang: Ini Kan Lucu, Tau Ilegal Tidak Ditutup Tapi Ditarik Pajak 

Ali Mahmudi • Senin, 24 Maret 2025 | 18:21 WIB
BLUSUKAN: Bupati Rembang Harno mengecek langsung kondisi banjir di Sedan dan sekitarnya.
BLUSUKAN: Bupati Rembang Harno mengecek langsung kondisi banjir di Sedan dan sekitarnya.

REMBANG - Banjir bandang di wilayah Lasem, Sluke, Kragan, Sedan, hingga Sarang, selain dipicu intensitas hujan tinggi, penyempitan saluran irigasi, juga dipicu maraknya aksi penambangan liar di wilayah pegunungan.

Tercatat di lima kecamatan ini wilayah pegunungannya menyimpan aneka material kandungan tambang. Di Kecamatan Lasem dan Sluke, Kragan, penghasil batu trass.

Sedangkan di Kecamatan Sarang dan Sedan penghasil pasir silika atau pasir kuarsa.

Di Sedan juga penghasil batu andesit atau batu bolder dan batu belah. Penghasil andesit juga tersebar di Kecamatan Pancur dan Pamotan.

Kemudian di Kecamatan Sale dan Gunem penghasil batu kalsit/kapur. Maraknya aksi penambangan liar ini tak dimbangi dengan upaya penghijauan pascatambang.

Padahal sesuai aturan petambang harus deposit guna perbaikan lingkungan sebelum izin mereka turun.

”Di Rembang pengawasnya sangat longgar. Beda dengan di Pati agak ketat,” ujar mantan konsultan tambang di Rembang yang namanya enggan disebutkan.

Pria asal Rembang ini juga menyoroti soal kebijakan pemerintah daerah yang hanya bisa menarik pajak dari penambang liar tanpa memperdulikan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Padahal menurutnya, tak hanya tambang legal saja yang ditarik pajak, tetapi juga yang ilegal.

”Ini kan lucu. Tau ilegal tapi tidak ditutup tapi ditarik pajak. Sudah begitu dampak lingkunganya tidak diawasi. Kalau ditanya soal pengawasan tanggung jawab provinsi, ini kan lepar tanggungjawab,” tandasnya.

Ia mencontohkan begitu masifnya penambangan pasir kuarsa di wilayah Mojosari, Sedan, dan di Lodan, Tawangrejo, Sarang, sampai detik ini pun tak ada upaya serius dari daerah untuk menindak tegas praktik penambangan nakal yang tidak memperhatikan dampak lingkungan.

Padahal menurutnya pasir kuarsa tersebut dikirim ke luar Rembang.

”Saya berharap momentum musibah banjir di wilayah Rembang timur ini jadi peringatan bagi daerah untuk berani menindak tegas para penambang nakal ini. Sebelum kondisi tambah buruk. Daerah juga harus melakukan mitigasi bencana” tandasnya.

Seperti diketahui di Kecamatan Sarang terdampak banjir cukup parah, diantaranya di Desa Gonggang, Bonjor, dan Sumbermulyo. (ali)

Editor : Ali Mustofa
#penambangan liar #rembang #pegunungan #harno #pajak