REMBANG – Kabar baik bagi pecinta budaya lokal! Festival Thong-Thong Lek 2025 resmi membuka pendaftaran mulai Sabtu (8/3).
Tahun ini, konsep festival kembali ke akar tradisionalnya dengan tanpa sound horeq dan tanpa kendaraan trailer.
Pendaftaran akan berlangsung hingga 15 Maret 2025 dan dapat dilakukan langsung di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, khususnya di Bidang Kebudayaan.
Selain itu, masyarakat juga bisa mendaftar melalui jalur by phone di nomor yang telah disediakan panitia.
Festival ini terbuka untuk warga asli Kabupaten Rembang, baik peserta maupun pendamping.
Namun, kuota peserta dibatasi hanya 25 kelompok, dengan masing-masing kelompok terdiri dari maksimal 25 orang.
Baca Juga: Sempat Melarikan Diri ke Hutan, Penabrak Pasutri di Bulu Rembang Terancam Hukuman 6 Tahun Penjara
Thong-Thong Lek 2025: Kembali ke Tradisi Murni
Kepala Dinbudpar Rembang, Mutaqin, menegaskan bahwa tahun ini, festival akan mengusung konsep murni tradisional.
Keputusan ini diambil untuk menjaga keaslian budaya lokal serta meningkatkan antusiasme masyarakat yang selama ini setia mengikuti festival.
"Kami ingin membawa Thong-Thong Lek kembali ke masa lalu, dengan konsep keliling tanpa tambahan modernisasi berlebihan.
Ini juga sebagai bagian dari visi-misi Bupati dan Wakil Bupati Rembang dalam melestarikan budaya daerah," ujar Mutaqin, Jumat (7/3).
Festival akan dimulai pada Kamis, 27 Maret 2025 pukul 20.00 WIB dan berlangsung hingga selesai.
Para peserta akan melakukan perjalanan dari Perempatan Zaeni dan berakhir di Gedung Haji, Rumbut Malang, Rembang.
Pemilihan rute ini mempertimbangkan kondisi sepanjang Jalan Dr. Soetomo dan Cokroaminoto, yang dikenal sebagai pusat aktivitas pedagang harian, meskipun pelaksanaan Kampung Ramadan telah usai.
"Kami ingin menjaga keseimbangan antara budaya dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Oleh karena itu, rute sudah kami atur agar tetap kondusif untuk semua pihak," tambahnya.
Ketentuan Festival: Tanpa Sound Horeq, Mobil Dibatasi L-300
Untuk memastikan acara berjalan dengan aman dan nyaman bagi peserta, penonton, serta pengguna jalan, panitia telah menetapkan beberapa peraturan ketat:
- Peserta harus warga asli Rembang.
- Setiap kelompok maksimal berisi 25 orang.
- Ketua kelompok wajib menandatangani pernyataan bahwa seluruh anggota bebas dari narkoba dan minuman keras.
- Kendaraan pendukung dibatasi maksimal L-300, dengan maksimal tiga unit mobil per kelompok.
- Sound system dilarang menggunakan "horeq" atau yang berdaya terlalu besar.
Lagu Wajib dan Pilihan, Wadah bagi Seniman Lokal
Dalam festival ini, seluruh peserta diwajibkan membawakan dua lagu tradisional, yakni:
- Sahur-Sahur
- Padang Bulan
Selain itu, terdapat lima lagu pilihan, di antaranya:
- Lir Ilir
- Ramadan Ya Ramadan
- Kota Santri
- Siti Fatimah Ya Allah (lagu yang sedang viral di YouTube dan TikTok)
- Lagu Islami ciptaan sendiri (asalkan orisinal dan mencantumkan nama pencipta individu/kelompok)
Mutaqin menjelaskan bahwa festival ini juga menjadi ajang bagi seniman lokal untuk berkreasi.
"Kami membuka kesempatan bagi seniman dan budayawan untuk membawakan lagu ciptaan sendiri, asalkan bertema Islami dan tidak menjiplak karya orang lain," jelasnya.
Sistem Penilaian, Juri Akan Menilai Saat Keliling
Festival tahun ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga kompetisi seni yang sesungguhnya. Penilaian akan dilakukan di dua lokasi:
- Panggung Kehormatan – Juri akan menilai langsung saat peserta tampil di titik utama.
- Saat Berkeliling – Setiap kelompok akan dinilai berdasarkan kekompakan, kreativitas, dan keunikan dalam membawakan musik tradisional.
Thong-Thong Lek, Budaya Ramadan yang Dinanti
Festival Thong-Thong Lek adalah tradisi khas Rembang yang selalu dinanti masyarakat setiap tahunnya.
Musik perkusi dari kentongan dan alat sederhana lainnya menjadi daya tarik utama festival ini.
Dengan kembalinya konsep tradisional, diharapkan festival tahun ini mampu memberikan pengalaman autentik serta membawa nostalgia bagi warga Rembang.
Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi, segera daftarkan kelompok Anda sebelum kuota penuh!(noe)
Editor : Mahendra Aditya