Misteri Masjid Tiban di Lasem: Bangunan Ikonik dengan Arsitektur Islam-Jawa Simbol Akulturasi Budaya
Vachri Rinaldy Lutfipambudi• Selasa, 4 Maret 2025 | 02:19 WIB
IKONIK: Bangunan Masjid Tiban Nurul Huda di Desa Gedongmulyo, Lasem
RADAR KUDUS - Lasem, sebuah kota kecil yang kaya akan sejarah dan budaya, menyimpan banyak peninggalan berharga, salah satunya adalah Masjid Tiban Nurul Huda yang terletak di Desa Gedongmulyo.
Masjid ini tidak hanya dikenal karena arsitekturnya yang khas, tetapi juga karena berbagai kisah yang menyertainya.
Beberapa sumber menyebutkan masjid ini tiba-tiba berdiri tanpa diketahui proses pembangunannya, sementara yang lain mengaitkannya dengan peninggalan Sunan Bonang atau Sunan Langgar.
Ernantoro, seorang pegiat sejarah di Lasem, tidak menampik bahwa banyak versi mengenai asal-usul Masjid Tiban.
Namun, ia memiliki analisis tersendiri yang lebih berlandaskan aspek historis dan geografis.
Menurutnya, kemungkinan besar masjid ini didirikan oleh para pedagang yang beraktivitas di sekitar Lasem.
Secara geografis, Masjid Tiban berdiri dekat Sungai Babagan, yang pada masa lampau menjadi jalur pelayaran penting.
Di seberang sungai, terdapat Klenteng Cu An Kiong, klenteng tertua di Lasem, yang memperkuat indikasi adanya jalur perdagangan yang ramai di wilayah tersebut.
Ernantoro memperkirakan masjid ini sudah ada sejak tahun 1800-an, berbarengan dengan pembangunan galangan kapal di sepanjang sungai Babagan.
Kawasan tersebut menjadi pusat aktivitas kapal-kapal dagang dan persinggahan para pedagang yang membawa kayu untuk mendirikan tempat ibadah.
Para pedagang yang sering singgah di Lasem diduga membangun langgar (musala) untuk keperluan salat mereka.
Konon, kayu untuk pembangunan masjid ini dibawa dari daerah Caruban, Lasem, yang juga merupakan tempat peninggalan Nyi Ageng Maloka.
“Di sana ada Langgar Bongkor, lalu diangkat dan dibawa ke Gedongmulyo,” ujar Ernantoro.
Abdullah Hamid, pegiat sejarah lainnya, berpendapat bahwa Masjid Tiban kemungkinan sudah ada sejak era Nyi Ageng Maloka, yang dikenal sebagai Mbakyu Sunan Bonang, sekitar tahun 1500-an ke bawah.
Hal ini diperkuat dengan keberadaan makam Nyi Ageng Maloka di Caruban.
IKONIK: Bangunan Masjid Tiban Nurul Huda di Desa Gedongmulyo, Lasem
Arsitektur dengan Sentuhan Islam-Jawa
Tak hanya sarat dengan sejarah, Masjid Tiban juga menarik perhatian karena arsitekturnya.
Bangunannya menyerupai joglo khas Jawa dengan serambi yang luas dan sumur di bagian depannya.
Pola arsitektur ini sejalan dengan desain beberapa masjid tua di Lasem, seperti Masjid Jami Lasem dan Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang.
Kedua masjid tersebut juga memiliki serambi luas dan atap berhiaskan ukiran yang memperlihatkan akulturasi budaya Islam dan Jawa.
Abdullah Hamid mengungkapkan bahwa bangunan asli Masjid Tiban kemungkinan memang berbentuk joglo, meskipun struktur yang terlihat saat ini adalah hasil renovasi.
“Kalau melihat kerangka aslinya, memang joglo. Itu ciri khas arsitektur Mataram Islam dan budaya Jawa-Islam,” jelasnya.
Pola pembangunan masjid-masjid di Lasem pada masa lalu juga mengadaptasi pendekatan budaya setempat.
Menurut Abdullah, penyebaran Islam di Lasem tidak dilakukan secara frontal.
Sebagai contoh, Sunan Bonang tidak langsung mendirikan bangunan yang disebut masjid, melainkan menyebutnya sebagai "rumah ombo" atau rumah besar.
Hal ini dilakukan untuk menghindari penolakan masyarakat yang masih kental dengan tradisi Hindu-Buddha saat itu.
“Awalnya disebut rumah ombo, kemudian setelah diterima oleh masyarakat, baru dinyatakan sebagai masjid,” tambahnya.
Simbol Keberagaman Budaya
Keberadaan Masjid Tiban di Lasem menjadi bukti akulturasi budaya yang harmonis antara Islam dan budaya Jawa, serta kehidupan multikultural di kota ini.
Lasem memang dikenal sebagai daerah dengan sejarah panjang interaksi antara pedagang dari berbagai latar belakang, termasuk Muslim, Tionghoa, dan masyarakat lokal.
Dengan berbagai versi cerita yang berkembang, Masjid Tiban tetap menjadi salah satu ikon sejarah dan spiritualitas di Lasem.
Misteri asal-usulnya mungkin belum terpecahkan sepenuhnya, tetapi yang pasti, keberadaannya telah menjadi bagian dari perjalanan panjang peradaban di kota ini.(vah)