BPJS Kesehatan Alami Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Berpotensi Hadapi Risiko Gagal Bayar pada 2027

RADAR KUDUS - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengungkapkan tengah menghadapi tekanan keuangan yang cukup besar akibat tingginya biaya pelayanan kesehatan yang harus dibayarkan kepada fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia.
Ketidakseimbangan antara jumlah iuran yang diterima dan nilai klaim yang terus meningkat menyebabkan BPJS Kesehatan mengalami defisit sekitar Rp2 triliun setiap bulan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang selama ini menjadi tulang punggung layanan kesehatan bagi jutaan masyarakat Indonesia.
Meski saat ini operasional dan pembayaran klaim masih berjalan normal, BPJS Kesehatan mengingatkan perlunya langkah antisipasi agar masalah keuangan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menjelaskan bahwa tingginya beban pembayaran layanan kesehatan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya defisit.
Setiap hari, BPJS Kesehatan melayani sekitar 2 juta transaksi pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh peserta JKN di berbagai rumah sakit, puskesmas, klinik, dan fasilitas kesehatan lainnya.
Dari jumlah transaksi tersebut, nilai pembayaran yang harus dikeluarkan BPJS Kesehatan mencapai sekitar Rp500 miliar per hari.
Jika diakumulasikan dalam satu bulan, total biaya klaim yang dibayarkan kepada fasilitas kesehatan berkisar antara Rp16 triliun hingga Rp16,5 triliun.



