Baru-baru ini, masjid jami mendapatkan penghargaan Anugrah Masjid Percontohan dan Ramah (AMPeRa). Penghargaan ini didapatkan setelah melaksanakan upaya pelestarian hingga digitali manuskrip.
Vachri Rinaldy L, Rembang, Radar Kudus
MASJID Jami Lasem terus semangat untuk nguri-nguri sejarah. Di antaranya, saat ini telah berdiri museum yang berada di kompleks bangunan yang menjadi ikon Kabupaten Rembang itu.
Museum tersebut memiliki corak yang unik. Bangunan atap yang seperti rumah gadang hingga jendela-jendela yang berukiran ayat-ayat Alquran. Kini, di dalamnya sudah dilengkapi berbagai koleksi.
Mulai manuskrip, benda-benda bersejarah, hingga informasi edukasi terkait denfan profil para ulama.
Tidak hanya itu, di kompleks Masjid Jami Lasem juga terdapat makam para tokoh islam yang sering diziarahi masyarakat.
Ikon sebagai masjid bersejarah itu semakin diperkuat saat Masjid Jami Lasem mendapatkan penghargaan AMPeRa kategori masjid bersejarah percontohan tingkat provinsi Jawa Tengah, yang diberjka oleh Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah.
Abdullah Hamid, salah satu pengurus Masjid Jami Lasem mengatakan, proses untuk mengikuti penghargaan tersebut dimulai sejak bulan Agustus.
Awalnya ia mendapatkan informasi untuk mengikuti kategori Masjid Besar. Namun, ia menilai Masjid Jami Lasem lebih cocok untuk mengikuti kategori masjid bersejarah.
"Barangkali ada leluang. Karena tidak semua masjid bersejarah. Yang kedua, kalau juara menjadi penguar bahwa Masjid Jami Lasem sebagai masjid bersejarah," katanya.
Abdullah mengatakan, pihak pengelola masjid sendiri sudah dilakukan kajian oleh pihak-pihak terkait. Seperti balai arkeologi, BPCB hingga perguruan tinggi untuk meneliti kesejarahan. Sehingga hal ini bisa menjadi acuan dalam penilaian AMPeRa.
Selain itu, pihak masjid juga melakukan upaya-upaya pelestarian. Diantaranya, adalah dengan melakukan digitalisasi.
Beberapa waktu lalu, tim dari salah satu universitas bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan dari Provinsi Jawa Tengah maupun Kabupaten Rembangmelakukan proses plestarian manuskrip.
Saat ini Masjid Jami lasem memiliki sekitar 14 manuskrip. Diantaranya ada mushaf, kitab tafsir, dan tasawuf. Literatur tersebut merupakan milik Perpustakaan Masjid Jami Lasem. Paling ada yang ditulis sekitar 1755 Masehi.
"Masjid Jami Lasem sudah ada kajian pihak terkait. Contohnya dari digitalisasi Perpusda Jawa Tengah. Masjid Jami Lasem bangiam dari zona inti kota pusaka," jelasnya.
Abdullah mengatakan, di Masjid Lasem juga terdapat cetakan-cetakan kuno. Seperti cetakan kitab tafsir KH Soleh Darat yang diperkirakan sudah ada sejak tajun 1800-an. "Mungkin dengan cetakan (total koleksi dan cetakan di Masjid Jami Lasem) ada 21 lebih," jelasnya.
Biasanya, lanjut Abdullah, koleksi-koleksi tersebut didapatkan dari masyarakat yang kemudian diberikan kepada pihak Masjid Jami Lasem. Pihaknya juga pernah mengundang pemerhati manuskrip untuk melakukan kajian.
"Perpustakaan Masjid Jami Lasem dikenal nguri-nguri. Beberapa tahun ini mawyarakat melihat. Apalagi ada publikasi, selalu bertambah. Masyarakat menghibahkan manuskripnya untuk menjadi koleksi perpustakaan masjid," jelasnya. (*)
Editor : Noor Syafaatul Udhma