RADAR KUDUS, REMBANG – Temuan dua Prasasti Tionghoa di Desa Warugunung, Pancur, Rembang terus menarik perhatian.
Baru-baru ini, lokasi tersebut didatangi oleh penerjemah bahasa Tionghoa.
Tempat temuan dua prasasasti ini disebut sebagai “Liang Naga”.
Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, di tempat ini terdapat dua prasasti yang berukiran aksara tionghoa.
Prasasti pertama kali ditemukan sekitar awal Agustus lalu. Sementara itu, prasasti kedua ditemukan pada Minggu (11/8).
Baca Juga: Unik! Ini Letak Persamaan dan Perbedaan Dua Prasasti Tionghoa yang Ditemukan di Pancur Rembang
Pada Selasa, (13/8) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang mendatangi lokasi, yang tepatnya berada di Dukuh Ngasinan, Desa Warugunung untuk melakukan identifikasi awal.
Diketahui, prasasti pertama memiliki ukuran tinggi 144 sentimeter, panjang 190 sentimeter, dan tebal 81 sentimeter.
Kemudian, prasasti kedua memiliki panjang 216 sentimeter, tinggi 110 sentimeter, dan tebal 105 sentimeter.
Dinbudpar Rembang untuk sementara baru melakukan inventarisasi dan dokumentasi terhadap benda-benda yang diduga cagar budaya itu.
Kemudian, temuan ini akan dilaporkan ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) sebelum dilakukan penelitian lebih lanjut.
Terpisah, Peneliti Sejarah Tionghoa Agni Malagina menilai, ukiran aksara tionghoa pada batu prasasti tersebut berisi tentang puisi.
Menurutnya prasasti ini merupakan temuan langka di Indonesia.
Keberadaan prasasti tionghoa di Pancur Rembang ini memang menarik minat para pemerhati sejarah.
Baru-baru ini, dua orang penerjemah Bahasa Tionghoa datang langsung ke lokasi.
Danang Swastika, Pegiat Sejarah Lasem ikut mendampingi kunjungan penerjemah tersebut.
Ia menyampaikan, ada dua penerjemah yang datang pada hari Minggu 18/8 kemarin.
Mereka adalah Kwa Tong Hay dan Ding An.
Danang mengatakan, ada beberapa kesimpulan dalam penerjemahan Prasasti tersebut.
Diantaranya, terkait dengan puisi atau syair yang berisi tentang tempat yang baik dan suci untuk pemakaman.
KwaTong hay, lanjut Danang, juga mengatakan bahwa tempat ini adalah Liang Naga atau Kepala Naga.
Yang diartikan sebagai pusat energi yang bagus bagi kepercayaan tionghoa.
”Naga merupakan lambang kebaikan dan keberuntungan, selain itu Naga disimbolkan sebagai lambing kekuasaan,” katanya.
Selain itu, Danang menyampaikan, Ding An juga mengungkapkan bahwa prasasti Ngasinan 2 (temuan prasasti yang kedua) berisi tentang sebuah informasi kejayaan masa lalu yang telah tenggelam dan akan kembali berjaya hingga waktunya tiba.
”Temuan Prasasti ini bisa ditengarai sebagai awal bangkitnya kejayaan Lasem seperti dahulu kala,” ujar Danang.
Selain itu, informasi tentang Prasasti Ngasinan juga telah sampai ke para akademisi luar Negeri.
Danang menyampaikan, salah satu akademisi yang tertarik untuk melihat langsung adalah seorang Profesor Sejarah dari Taiwan.
Ia berharap, situs-situs sejarah yang ada di Lasem bisa lestari dan dapat melengkapi catatan sejarah yang sudah ada.
”Semoga situs sejarah Lasem semakin lestari dan melengkapi catatan-catatan sejarah yang sudah ada,” katanya.
Selain itu, ia juga berharap kedapan ada penataan temuan situs sehingga bisa memberikan manfaat bagi keilmuan dan masyarakat Lasem.
"Serta ada langkah nyata dari pihak yang berwenang untuk menata temuan situs demi kepentingan penelitian dan kemaslahatan masyarakat Lasem,” imbuhnya.
Editor : Noor Syafaatul Udhma