REMBANG - Temuan dua Prasasti di Dukuh Ngasinan, Desa Wurugunung, Pancur Rembang menarik perhatian peneliti sejarah tionghoa.
Saat ini upaya penerjemahan isi prasasti sudah dilakukan.
Jawa Pos Radar Kudus menerima hasil transkripsi pada prasasti pertama.
Diberitakan sebelumnya, beberapa waktu lalu, prasasti pertama ditemukan di sekitar Bukit Tapaan Santi Badra, wilayah Dukuh Ngasinan, Desa Wurugunung, Pancur.
Pada temuan pertama tersebut, berisi puisi tentang fengshui, yakni praktik geomansi yang sudah ada sejak masa Tiongkok kuno.
Biasanya mengenai pengaturan spasial, tempat, orientasi, arah, menyelaraskan energi agar dapat menghasilkan suasana harmonis dan damai bagi penghuni atau pemilik tempat.
Baca Juga: Kabar Baik, Temuan Prasasti Tionghoa di Pancur Rembang Bertambah, Begini Penampakannya
Dalam puisi yang terpahat di batu itu, menggunakan format dan ritme puisi klasik yang menggambarkan alam dengan gunung dan sungai yang indah. Serta mengandung metafora dan simbol.
Sementara itu, prasasti kedua, diterbitkan pada hari Minggu (11/8) kemarin. Setelah temuan pertama tersiar, area tersebut menarik perhatian para pegiat sejarah di Lasem, Rembang.
Saat itu ada beberapa komunitas yang hadir, seperti Asem Gede, Lasem Kota Cagar Budaya (LKCB), dan Komunitas Balung Watu.
Mereka melakukan penyusiran di berbagai lokasi sekitar prasasti.
Kemudian, ada salah satu yang melihat batu disisi barat prasasti pertama. Setelah diamati ternyata juga ada guratan aksara tiongkok.
Saat ini upaya untuk menerjemahkan dan menafsirkan telah dilakukan.
Jawa Pos Radar Kudus menerima transkripsi dari Prasasti Pertama, yang dilakukan oleh Peneliti Sejarah Tionghoa bersama Pippo Agusto dan Kwa Tonghai.
Berikut ini isinya:
詩曰Shī yue
Puisi
歷盡江山萬里 li jǐn jiāngshān wànlǐ
Perjalanan berkelana melintasi gunung dan sungai ribuan li berakhir sudah
未知何處是真龍 wèizhī hé chù shì zhēn long
dimanakah tempat naga yang sesungguhnya
三山芘出色藏内sānshān pí chūsè cáng nèi
Tiga gunung kristal bercahaya istimewa bermunculan
朝堂會合中 cháo táng huìhé zhōng
Bagai tempat penting pertemuannya para birokrat dan bangsawan
鐘頓鼓排队伍 zhōng dùn gǔ pái dui wǔ
Sambil diiringi bel berbunyi genderang ditabuh berarakan
從背後挺高峰 cóng bèihòu tǐng gāofēng
Tempat mengelilingi puncak-puncak tertinggi
此生成真吉地 cǐ shēngchéng zhēn jí de
Di sanilah tempat kehidupan selanjutnya yang penuh keberuntungan
塟得便三公 zàng dé biàn sāngōng
Di sanalah tempat bersemayam terbaik untuk para pejabat
老蘇題 lǎo sū tí
Penulis: Lao Su
Agni Malagina juga memberikan intepretasi atas puisi tersebut, yang isinya sebagai berikut:
" Perjalanan melintasi sungai dan gunung nan jauh (ribuan li) telah berakhir. Sambil terus bertanya di manakah letak sarang naga yang sebenarnya. Tempat ini mengelilingi gunung-gunung yang indah.
Tanah ini ibarat tempat penting tempat berkumpulnya para pejabat istana yang datang diiringi lonceng gendering ditabuh berarak-arak.
Puncak gunung-gunung tinggi disekitarnya. Di tempat inilah kehidupan selanjutnya akan penuh keberuntungan.
Jikalau seseorang dimakamkan di tempat ini, maka keturunannya pun akan mendapatkan keberuntungan, kesejahteraan, dan mencapai karir tertinggi ”
Agni menyampaikan bahwa puisi klasik bisa bervariasi. Sehingga berpotensi menimbulkan perbedaan potensi.
“Terjemahan puisi klasik bisa bervariasi, tapi biasanya ndak jauh banget maknanya. karena pasti native atau penutur asli, dan yang bukan asli punya perbedaan persepsi,” jelasnya.
Agni menjelaskan, dalam bahasa tiongkok, terdapat istilah Shibei, yang dipadukan dengan prasasti.
Aksara yang dituliskan pada prasasti biasa disebut dengan inskripsi.
Baca Juga: Batu Prasasti Berhuruf Tiongkok Ditemukan di Pancur Rembang, Diduga Ada Jejak Perkampungan Kuno
Perempuan yang telah menggeluti penelitian sejarah tionghoa puluhan tahun itu menjelaskan, inskripsi yang ada di prasasti pertama dan kedua merupakan karakter Han.
"Kami menyebut karakter karena 1 karakter punya makna, berbeda dengan huruf alfabet," jelasnya.
Agni bilang, kebiasaan bangsa Tiongkok memahat puisi pada batu merupakan kebiasaan kuno dari masa dinasti sebelum masehi.
Baca Juga: Ada di Lasem Rembang, Ini Lokasi Jejak Tapak Kaki di Atas Batu Raja Majapahit Hayam Wuruk
Fungsinya tidak hanya sebagai estetika, namun juga sebagai alat komunikasi seperti menyampaikan pesan, mengabadikan momen peristiwa penting, dan ekspresi seni.
“Nah yang ditemukan ini salah satunya menyampaikan pesan dan ekspresi, bahkan mengingat seseorang yang penting,” katanya.
Di sekitar batu berukir puisi tersebut juga terdapat sebuah pemakaman. Menurutnya, batu tersebut juga bisa sebagai penghormatan kepada yang sudah meninggal, serta menjadi refleksi bagi yang masih hidup.
Editor : Noor Syafaatul Udhma