Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menarik! Begini Terjemahan Prasasti Tionghoa yang Baru Saja Ditemukan di Pancur Rembang, Satu Huruf Bisa Punya Makna

Vachri Rinaldy • Selasa, 13 Agustus 2024 | 01:43 WIB
Batu dengan ukiran huruf tionghoa yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur pada Minggu (11/8).
Batu dengan ukiran huruf tionghoa yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur pada Minggu (11/8).

REMBANG - Wilayah pegunungan Lasem di area Desa Warugunung, Pancur sudah ditemukan dua buah batu yang diduga prasasti tionghoa. 

Kedua temuan tersebut berisi tentang puisi. 

Agni Malagina, Peneliti Sejarah Tionghoa menyebut temuan batu dengan ukiran aksara tionghoa yang membentuk sebuah puisi merupakan hal yang langka di Indonesia. 

 

Sehingga, menurutnya temuan ini layak untuk dilindungi. 

Sekitar sepekan lalu, prasasti pertama ditemukan di sekitar Bukit Tapaan Santi Badra, wilayah Desa Wurugunung, Pancur. 

Pada temuan pertama tersebut, berisi puisi tentang fengshui, yakni praktik geomansi yang sudah ada sejak masa Tiongkok kuno. 

Biasanya mengenai pengaturan spasial, tempat, orientasi, arah, menyelaraskan energi agar bisa menghasilkan suasana harmonis dan damai untuk penghuni atau pemilik tempat. 

Penampakan batu mirip prasasti yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.
Penampakan batu mirip prasasti yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.

Dalam puisi yang terpahat di batu itu, menggunakan format dan ritme puisi klasik yang menggambarkan alam dengan gunung dan sungai yang indah. Serta mengandung metafora dan simbol. 

Sementara, prasasti kedua, ditemukan pada hari Minggu (11/8) kemarin.

Setelah temuan pertama tersiar, area tersebut menarik perhatian para pegiat sejarah di Lasem, Rembang. 

Baca Juga: Dugaan Prasasti Tionghoa di Pancur Rembang Berisi Puisi tentang Fengshui, Konon Temuan Langka di Indonesia!Begini Penjelasannya

Saat itu ada beberapa komunitas yang hadir, seperti Asem Gede, Lasem Kota Cagar Budaya (LKCB), dan Komunitas Balung Watu. 

Mereka melakukan penyisiran di berbagai lokasi sekitar prasasti. 

Kemudian, ada salah satu yang melihat batu disisi barat prasasti pertama. Setelah diamati ternyata juga ada guratan aksara tiongkok. 

Batu berukiran huruf tiongkok kembali ditemukan di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.
Batu berukiran huruf tiongkok kembali ditemukan di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.

Agni juga sudah mendapatkan kiriman foto dari prasasti yang kedua itu.

Ia menjelaskan, memang terdapat perbedaan antara puisi pada batu yang pertama dan yang kedua. 

Pada batu yang pertama, terdapat nama Lao Su, sebagai penulis. Sementara yang kedua tidak ada nama penulis. 

Selain itu, dari sisi gaya penilisan dan penggunaan tanda baca juga berbeda. 

Ia pun mencoba menerjemahkan sekilas isi dari prasasti yang kedua. Memang, menurutnya masih ada sejumlah aksara yang belum jelas. 

Berikut diantara hasil terjemahannya:

"Seseorang yang bernama Dongming tertawa miris, orang-orang sering melihatku sebagai orang biasa (tak berbakat). Namun sebenarnya aku bukanlah orang biasa. Tapi...waktunya belum tiba karena emas telah tenggelam di dasar laut. Belum juga bertemu nasib (baik) karena giok telah pecah hancur menjadi debu"

Pada bahasa tiongkok, lanjut Agni, terdapat istilah Shibei, yang sepadan dengan prasasti. 

Aksara yang dituliskan pada prasasti biasa disebut dengan inskripsi. 

Perempuan yang telah menggeluti penelitian sejarah tionghoa puluhan tahun itu menjelaskan, inskripsi yang ada di prasasti pertama dan kedua merupakan karakter Han. 

"Kami sebut karakter karena 1 karakter punya makna, berbeda dengan huruf alphabet," jelasnya. 

Agni bilang, kebiasaan bangsa Tiongkok memahat puisi pada batu merupakan kebiasaan kuno dari masa dinasti sebelum masehi. 

Fungsinya tidak hanya sebagai estetika, namun juga sebagai alat komunikasi seperti menyampaikan pesan, mengabadikan momen peristiwa penting, dan ekspresi seni.

"Nah yang ditemukan ini salah satunya menyampaikan pesan dan ekspresi, bahkan mengingat seseorang yang penting," katanya. 

Di sekitar batu berukir puisi tersebut juga terdapat sebuah pemakaman.

Menurutnya, batu tersebut juga bisa sebagai penghormatan kepada yang sudah meninggal, serta menjadi refleksi bagi yang masih hidup. 

Editor : Ali Mustofa
#sejarah #rembang #puisi #penemuan prasasti #sejarah lasem #Pancur #Sejarah Rembang #fengshui #tiongkok #Prasasti #Prasasti Tionghoa