REMBANG - Santri - santri di Kabupaten Rembang telah munculkan para tokoh. Salah satunya Zaimul Umam, figur muda yang sedang berkiprah di dunia pesantren dan politik saat ini.
Gus Umam -sapaan akrabnya- merupakan santri tulen asal Desa Narukan, Kragan. KH Nursalim, Ayahnya merupakan tokoh agama di Rembang. Demikian juga kakaknya, KH Bahaudin Nursalim (Gus Baha) yang juga merupakan kiai yang sudah dikenal masyarakat luas atas keilmuam yang dimiliki.
Gus Umam sendiri pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang dan Madrasah Ghozaliyah Syafiiyah.
Sebagai Santri, Gus Umam juga ikut meneladani kiprah keluarganya. Sekarang dia bersama Gus Baha menjadi pengasuh Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Alquran (LP3IA), Narukan, Kragan. Di sana dia juga meluangkan waktunya mengajar mengaji.
"Saat ini saya membantu kakak saya KH Bahaudin Nursalim menjadi pengasuh Ponpes Tahfidzul Quran LP3IA, Narukan Kragan," katanya.
Tidak hanya berkutat dengan kitab, Zaimul Umam juga disibukkan dengan urusan-urusan yang berkaitan dengan proses demokrasi di kabupaten Rembang. Karir politiknya diawali pada 2014 ketika mencalonkan diri dan terpilih sebagai anggota DPRD Rembang.
Pada 2020, dia mendapatkan mandat untuk menjadi Pelaksana Tugas (Plt) KetuaDewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rembang. Kemudian pada 2021 ia terpilih secara aklamasi untuk menjadi Ketua DPC PPP.
Bagi dia, kehadiran tokoh demokrasi dalam politik diperlukan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses politik. Sehingga bisa meningkatkan keterlibatan warga negara dalam pembuatan keputusan publik.
"Keterlibatan santri dalam politik menjadi contoh dan inspirasi bagi generasi muda dan masyarakat luas tentang bagaimana berpolitik secara etis dan bertanggung jawab," jelasnya.
Ia menilai, santri yang terjun dalam politik pada prinsipnya merupakan pengabdian terhadap masyarakat dan negara dengan landasan nilai-nilai keagamaan.
"Dalam dunia politik seorang santri dapat memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan umat Islam di ranah politik dan pemerintahan serta berperan menjaga keharmonisan dan persatuan bangsa dalam keragaman," jelasnya.
Di lingkungan pesantren sendiri memiliki prinsip demokrasi yang diintegrasikan dalam praktik sehari-hari. Seperti musyawarah sebagai metode untuk membuat keputusan penting.
"Mengajarkan nilai-nilai seperti keadilan, kesetaraan, dan tanggung jawab sosial, yang merupakan inti dari demokrasi. Membangun rasa kebersamaan dan tanggung jawab kolektif, yang merupakan esensi dari masyarakat demokratis," jelasnya.
Dengan mengintegrasikan nilai-nilai dan praktik demokrasi dalam kehidupan sehari-hari, lanjut Gus Umam, pesantren tidak hanya mendidik santri dalam aspek keagamaan, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab dalam masyarakat yang lebih luas. (vah)
Editor : Abdul Rokhim