REMBANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang mendata kebutuhan kurban 5.006 ekor.
Data itu mengacu kebutuhan berdasarkan rata-rata dua tahun terakhir. Sapi jumlahnya 909 ekor, kerbau 2 ekor, kambing 3015 dan domba 1080 ekor.
Untuk menjamin kesehatan saat disembelih hari Senin (17/6) petugas bidang Peternakan pada Dintanpan setempat dikerahkan.
Jumlahnya 65-70 petugas, terdiri seluruh petugas inseminator dan petugas teknis bidang.
Sebelumnya pekan lalu ternak 14 kecamatan tidak luput di cek. Terinci 11 kecamatan di cek dokter hewan.
Sisanya 3 kecamatan Sarang, Sale dan Gunem disambung petugas peternakan kecamatan.Total ternak ada 1570 ekor terdiri sapi, kambing dan domba.
Ribuan ekor ternak yang rampung diperiksa dinyatakan sehat.
Selebihnya ada yang ditemukan bekas Lumpy Skin Disease (LSD) atau cacar sapi sudah sembuh 13 ekor.
Kepala Dintanpan Rembang, Agus Iwan Haswanto menyampaikan menjelang Idul Adha Dintanpan mengawasi kesehatan hewan ternak, terutama sapi dan kambing.
Untuk memastikan hewan kurban layak konsumsi.
”Kita bentuk tim, memeriksa penampungan ternak dan pasar. Pemeriksaan awal ini bertujuan agar panitia kurban bisa mengganti hewan yang tidak sehat dengan yang lebih layak,” katanya.
Pemeriksaan sudah berjalan. Antara lain kecamatan Sedan, Pamotan, Kragan, Lasem, Rembang, Kaliori, Sumber, Pancur, Sluke, Sulang dan Bulu.
Dari 9 kecamatan ditemukan bekas LSD tapi sudah sembuh, 13 ekor dan belum laku di pedagang, 22 persen belum poel.
”Harapan kita waktu yang ada memberi cukup kepada panitia kurban manakala hewan kurbannya tidak memenuhi syarat bisa segera mencari gantinya,” jelasnya.
Namun, Agus menegaskan kondisi kesehatan hewan di Kabupaten Rembang relatif stabil dibanding saat merebaknya penyakit PMK dan LSD.
Peternak dan masyarakat yang hendak berkurban diminta tidak khawatir.
Kepala Bidang Peternakan Dintanpan Rembang, Lulu Rofiana, menambahkan tim sudah bergerak mulai tanggal 3 hingga 12 Juni 2024.
Dibantu dokter hewan masing-masing wilayah. Untuk melihat stok dan pengecekan kesehatannya.
”Alhamdulih tidak ditemukan penyakit menular seperti antraks, kemudian penyakit mulut dan kuku (PMK). Untuk LSD hanya bekasnya saja. Tapi tidak terdeteksi terkena penyakit itu,” katanya kepada koran ini.
Sebelumnya pada hari Selasa lalu petugas teknis dikumpulkan. Hari H pemotongan dikerahkan pemantauan setelah penyembelihan.
Melakukan pelaporan. Nanti akan ada edukasi kepada takmir atau masyarakat secara luas bagaimana identifikasi ternak sehat.
”Nanti lewat petugas kita di kecamatan. Petugasnya 65-70, seluruh petugas inseminator dan petugas teknis bidang dikerahkan semua,” terangnya,” pungkasnya. (noe/him)
Editor : Ali Mustofa