REMBANG - Arsip batik tulis Lasem sedang diusulkan menjadi Memori Kolektif Bangsa (MKB).
Dalam waktu dekat, tim dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) akan melakukan visitasi ke lapangan.
Beberapa waktu lalu arsip tersebut telah dipaparkan di ANRI.
Setelah presentasi, tim dari ANRI akan melakukan visitasi ke Lasem yang dijadwalkan pada Maret mendatang.
Tim akan melihat secara langsung keberadaan arsip-arsip tersebut yang kini tersimpan di Museum Nyah Lasem.
Kepala Dinarpus Rembang Ahmad Solchan menyampaikan, arsip-arsip yang disimpan di Museum Nyah Lasem memiliki sejarah yang berkaitan dengan jaringan dagang batik Lasem.
Mencakup Sumatra, wilayah Indonesia bagian timur hingga Singapura.
Salah satu arsip bahkan menunjukkan peran perempuan Lasem, terutama pemilik usaha batik dalam mendirikan dapur umum untuk Tentara Republik Indonesia.
"Arsip-arsip ini kaya akan sejarah ekonomi, sosial, dan seni kreatif batik Lasem sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, serta Batik Indonesia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi, sehingga sangat penting," jelasnya.
Arsip-arsip tersebut bersumber dari perusahaan Batik Lasem Tio Oen Bien-Tio Swan Sien dari tahun 1900 hingga 1930 berjumlah 104 arsip, berupa surat, kartu pos, kuitansi, dan foto.
Di dalamnya memuat informasi tentang jaringan dagang dan pembelian alat batik dari luar daerah.
Seperti lilin atau malam dari Atapupu Timor, dan kain dari Surabaya dan Solo.
Selain itu, juga ada arsip perusahaan batik Lasem Liem Kioe An periode 1922 hingga 1940 berjumlah 73 tekstural, berupa surat, telegram, dan foto.
Arsip ini berisi informasi tentang jaringan dagang batik dari Sumatra hingga Sulawesi.
"Batik Lasem ini memang sudah terkenal, namun secara arsipnya ini belum terungkap," ujarnya.
"Ternyata setelah kami telusuri, batik Lasem itu sudah ada sejak awal abad ke-19," imbuhnya. (vah/noe/ali)
Editor : Noor Syafaatul Udhma