REMBANG - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar), Kabupaten Rembang tidak menutup mata.
Atas kondisi pantai Wates Kaliori yang berlumpur dan sedikit pekat ada sisa limbah pengolahan ikan. Pengelola diminta berinofasi dan di klaim sudah terwujud.
Kepala Dinbudpar Rembang, Mutaqin mengakui destinasi pantai harus memiliki ciri khas atau pembeda satu dengan lainnya.
Tidak saling bersaing. Namun saling melengkapi. Misalnya jika datang di Karang Jahe Beacah (KJB) banyak permainan serta pengunjung bisa main pasir turun di air.
”Seperti di Wates, Kaliori agak berlumpur pantainya. Untuk mengelabuhi hal itu kita buat air di tepi pantai disiapkan tepat duduk spot yang penggunaanya gratis,” katanya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus.
Tidak hanya siapkan fasilitas tempat duduk. Disamping itu pula untuk berikan kenyamanan pada pengunjung dan anak-anak disana pengelola diarahkan.
Dan sudah terwujud adanya wahana-wahana permainan anak di hutan cemara.
”Terobosan sudah terwujud. Anak juga tetap tertarik. Untuk sisa limbah masih. Biasanya di Wates saat musim tertentu agak tidak bisa terbendung sekali,” evaluasinya.
Diluar lumpur di pantai Wates, Mutaqin melaporkan grafik pengunjung yang berbondong-bondong ke destinasi Kabupaten Rembang.
Tetap ada penurunan dibandingkan dengan tahun baru di Nataru 2022. Pengunjung banyak, tren sedikit agak menurun.
”Justru yang dipantai penurunan tidak signifikan. Tetapi untuk wisata lain agak lumayan banyak. Seperti Ngulahan, Candimulyo dan Pagar Pelangi,”katanya.
Disamping tren berkurang muncul wahana lain. Sehingga agak tersebar. Tetapi secara total nampaknya karena belum berhitung di akhir tahaun. Tetap trend ada penurunan.
”Inofasi belum ada perubahan signifikan. Disamping muncul wahana baru. Terasa orang ingin merasakan sesuatu baru,” imbuhnya.
Untuk bangkitkan pendampingan dinas tetap memberikan penguatan kepada pengelola. Baik desa wisata maupun kelompok sadar wisata (pokdarwis).
Walaupun kondisi keuangan APBD menurun tetap ada penguatan pengelola wisata. (noe)
Editor : Ali Mustofa