REMBANG - Warga Desa Pelemsari, Sumber, Rembang, memeriahkan sedekah bumi dengan tawur nasi.
Sebelum "bertempur", sesepuh desa membacakan doa. Setelah itu, nasi yang dikumpulkan langsung diserbu warga.
Mereka saling melempar satu sama lain. Sehingga suasana pun tampak meriah.
Kegiatan itu sudah menjadi tradisi yang rutin dilaksanakan setiap tahun.
Tradisi seperti itu sudah dilakukan turun temurun. Warga setempat memaknainya sebagai wujud syukur.
Sekitar pukul 10.00 WIB pada Rabu (26/7), warga tampak berkerumun di sekitar punden.
Baca Juga: Dua Pekan Sekali Terdapat Pelajar yang Terlibat Kecelakaan, Begini Kata Kapolres Rembang
Mereka juga membawa nasi satu bakul atau satu nampan. Kemudian dikumpulkan menjadi satu.
Sedekah bumi di desa itu dilaksanakan dengan sejumlah rangkaian kegiatan.
Di antaranya ada arak-arakan gunungan, penampilan tari orek-orek, dan barongan.
Sebelum dilaksanakan "tawuran", acara diisi dengan flashmob tari orek-orek terlebih dahulu. Warga yang berada di sekitar punden boleh ikut menari.
Setelah itu, acara selanjutnya diisi pentas barongan. Tawur nasi merupakan puncak kegiatan itu. Sehingga menjadi rangkaian acara paling terakhir.
Baca Juga: Hari Jadi ke-282 Rembang : Bupati Ziarah ke Tokoh Pemerintah-Ulama hingga Datangkan Aftershine
Maspin, kepala Desa Pelemsari mengaku tidak tahu persis berapa jumlah nasi yang digunakan untuk tawuran.
Biasanya, warga sekitar yang membawa nasi kemudian dikumpulkan.
Maspin menjelaskan, di desanya memiliki empat punden. Tradisi tawur nasi sendiri dilaksanakan di punden yang berada di RW 4.
Keluarga-keluarga yang tinggal di sekitar punden tersebut yang membawa nasi untuk kegiatan "tawuran". Total di wilayah sekitar punden ini terdapat sekitar 90 KK.
"Untuk wilayah RW 4 dan sebagian RW 3. RW sini sekitar 90 KK," katanya.
Baca Juga: Pelaku Begal yang Beraksi di 11 TKP di Rembang Dibekuk, Polisi Serahkan Motor Curian ke Pemilik
Maspin bercerita, setelah acara selesai, nasi-nasi yang berserakan bisa diambil kembali untuk makanan ternak.
Selain itu juga dijadikan untuk bahan pupuk. "Itulah wujud sebagai tolak bala untuk penyakit tanaman. Itu keyakinan masyarakat kami, " ujarnya.
Kholis, salah satu peserta tawur nasi merasa tradisi ini berlangsung seru. Selain itu, juga bisa saling bersilaturahmi antar warga.
"Kepingin menambah seduluran dengan teman-teman biar kompak," katanya. (vah/zen)
Editor : Abdul Rokhim