Baca Juga : Gus Mus Izinkan Mars Satu Abad NU Dibikin 12 Versi: Keroncong-Dangdut hingga Rock
Dikediaman itu pula, digemblenglah sosok Gus Yahya yang kini menjadi ulama yang hebat. Bahkan, saat diajari makhorijul huruf, tak jarang ibundanya -Bu Nyai- membawa sulak (kemoceng) untuk menegur putranya jika salah.
Kini, kediaman itu sebagian besar masih asli, sebagaimana saat KH Cholil Bisri masih hidup. Ruang tamu didesain memanjang. Ukurannya sekitar 7x4 meter. Terdapat satu set sofa dan meja. Di tengah ada pintu yang tertutup tirai. Rumah ini memiliki empat kamar utama. Dua berada di depan. Sisanya ada di balik tirai.
Lokasi rumah ini berada di depan aula pondok dan ndalem KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Sekarang, rumah tersebut didiami Gus Gipul (Bisri Cholil Laquf), anak keenam Kiai Cholil.
Kediaman ini jadi jujukan pulang KH Yahya Cholil Staquf. Kamar beliau berada di balik tirai. Sekarang sudah menjadi kamar anak Gus Gipul. Isinya banyak boneka.
Untuk pesantrennya, berada di belakang rumah. Dulu, kata Gus Gipul, hanya ada sekitar sembilan santri. Sekarang Ponpes Raudhatut Thalibin sudah berkembang. Bangunan di belakang ndalem sekarang menjadi pondok putri.
Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Kelurahan Leteh menjadi napak tilas lahirnya pemikiran cemerlang dari Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Di sinilah Gus Yahya -sapaan akrabnya- menyelami madrasah pertamanya melalui pendidikan KH Cholil Bisri -ayahnya- dan Nyai Hj Muchsinah -ibundanya-.
Masa kecil Gus Yahya juga sering srawung bersama para santri. Pola asuh KH Cholil Bisri memang demikian. Mengenalkan anak-anaknya kepada dunia pesantren. Sehingga mereka diajak mengaji.
”Mulai balita (anak-anak KH Cholil Bisri) itu digendong ke musala depan (aula pondok). Terserah, mau mainan nyopotin peci, dibiarkan,” katanya.
Konon, dari delapan putra KH Cholil, Gus Yahya merupakan yang sering diajak pergi mengaji.
”Anak pertama ya, cikal bakal yang menggantikan abah. Jadi digembleng,” katanya.
Begitupun untuk pola asuh ibu. Nyai Hj. Muchsinah membimbing langsung anak-anaknya dalam mengaji. Amat detail sekali. Terutama soal makhorijul huruf. Sangat diperhatikan. Kudu sesuai dengan pelafalan.
”Ibu keras kalau di situ (makhorijul huruf). Sampai bawa sulak ibu itu,” katanya.
Bahkan, ketika berumur lima tahun, anak-anak sudah digembleng membaca Alquran.
Tak hanya itu, Hj Muchsinah juga tegas dalam ketepatan salat. Tak pernah bosan, bahkan sampai sekarang. Meskipun anak-anaknya ada yang menjadi ketua umum PBNU (KH Yahya Cholil Staquf), Menteri Agama (Yaqut Cholil Qoumas), Wakil Ketua DPRD Rembang (Bisri Cholil Laquf), dan Wakil Bupati Rembang (Muhammad Hanies Cholil Barro) dirinya selalu mengingatkan untuk menjaga salatnya.
”Sampai sekarang di grub keluarga mengingatkan: ojo lali Quran-ne Maghrib-Maghrib (Jangan lupa baca Alquran. Sudah maghrib),” tuturnya.
Gus Yahya, pria kelahiran 1966 itu menghabiskan masa kecil sampai remajanya di Rembang. Gus Gipul menyebutnya dengan istilah santri blandongan, atau santri yang tidak tercatat secara administratif di pesantren.
Setelah itu, menginjak SMA baru bertolak ke Jogja. Mondok di Pesantren Krapyak, Jogjakarta asuhan KH Ali Maksum. Jika sedang pulang, ia harus mengendarai vespa milik abahnya dari Jogja ke Rembang.
Tak lupa, jika pulang dirinya membawa oleh-oleh wafer untuk adik-adiknya di rumah. ”Beliau (Gus Yahya) itu pulang (ke Rembang) pas gak punya uang. Dan tidak ada jawaban atau kepastian mau dikirim atau tidak. Subuh dari sana (Jogja) pagi sampai (Rembang),” kata Gus Gipul.
Gus Gipul pernah menyaksikan. Saat itu Gus Yahya sedang pulang. Kemudian KH Cholil Bisri mengetahui itu. Langsung marah. ”Sopo sing ngongkon koe mulih (siapa yang suruh kamu pulang),” kenang Gus Gipul Minirukan.
”Ibuk (Nyai Hj Muchsinah) langsung njagani supaya abah tidak lebih marah. Cara didiknya begitu. Keras,” ujarnya.
Gus Gipul mengakui, kakak pertamanya adalah sosok yang betah tirakat. Betah lapar. Ia sendiri memang pernah hidup bersama dengan Gus Yahya. Saat itu, Gus Yahya menjadi anggota KPU sekitar 1999.
Gus Gipul masih ingat betul. Kala itu menyewa rumah yang ukurannya tak lebih besar dari ruang tamu rumah Gus Gipul saat ini. Kos-kosan itu diisi empat orang. Gus Yahya, istri Gus Yahya, Yaqut Cholil Qoumas (Menteri Agama, adik ketiga Gus Yahya), dan Gus Gipul.
Gambarannya ada ruang tamu, dua kamar, dapur dan kamar mandi dengan pintu hanya menggunakan banner. Sebulan disewa kurang dari Rp 300 ribu.
”Kalau makan (saat ngekos) istiqomah. Pagi mi goreng, kalau siang cari nasi padang, kalau malam nasi goreng lewat,” ujarnya. (*/zen/khim) Editor : Abdul Rokhim