Diketahui dalam skenario simulasi, Kabupaten Rembang diguncang gempa bumi dengan magnitudo 5 SR yang mengakibatkan terjadinya vibrasi pada turbin PLTU Rembang sehingga menyebabkan 2 (dua) unit pembangkit mengalami trip. PLTU Rembang dengan segera menerapkan standar prosedur tanggap darurat dan menjalankan BCP Penanganan Gempa Bumi.
Berbagai langkah segera diambil, diantaranya adalah menggerakkan Tim Kesiapsiagaan Penanggulangan Keadaan Darurat (TKPKD) PLTU Rembang untuk melakukan evakuasi penyelamatan karyawan dan asset mesin pembangkit, kemudian melakukan komunikasi dan pelaporan terkait gangguan unit kepada dispatcher (P2B) dan Direktur Operasi Pembangkit Batubara PT PLN Nusantara Power, menghubungi BPBD Kabupaten Rembang serta BMKG Stasiun Geofisika Banjernegara terkait penyampaian laporan kondisi darurat dan koordinasi informasi untuk mengantisipasi adanya potensi tsunami ataupun gempa susulan.
Pada skenario disimulasikan juga terjadi kondisi kebakaran, sehingga tim Pemadam Kebakaran (Damkar) PLTU Rembang segera dikerahkan untuk memadamkan api.
Terdapat tiga orang karyawan yang diskenariokan mengalami cedera ringan akibat terkilir dan terpeleset saat proses evakuasi, yang kemudian ditangani pertolongan pertama oleh tim TKPKD di lokasi selanjutnya segera dirujuk ke Puskesmas Sluke.
Kurniawan Dwi Hananto, selaku General Manager PT PLN Nusantara Power UBJOM PLTU Rembang menyampaikan bahwa Simulasi BCP yang dilakukan merupakan upaya untuk mengantisipasi sekaligus menyiapkan rencana kontinjensi ketika terjadi kondisi darurat di PLTU Rembang.
“Simulasi gempa bumi ini bertujuan untuk memberikan edukasi pada karyawan, langkah seperti apa yang perlu dilakukan dalam melakukan perlindungan diri dan evakuasi pada saat terjadinya gempa bumi. Selain itu simulasi ini penting dilakukan, mengingat PLTU Rembang merupakan Objek Vital Nasional yang menyuplai kebutuhan listrik sistem Jawa Bali. Tentu kami tidak mengharap kondisi ini benar-benar terjadi, namun preparing for the worst perlu dilakukan agar ketika kondisi darurat terjadi kami telah siap, sehingga kontinuitas suplai listrik dari PLTU Rembang tetap terjaga. Hal ini sebagai wujud tanggung jawab kami untuk menghadirkan pasokan listrik yang andal dan berkualitas,” ujarnya.
Beberapa masukan dan evaluasi disampaikan oleh BMKG Stasiun Geofisika Banjernegara dan BPBD Kab. Rembang guna menyempurnakan skenario dan pelaksanaan simulasi sesuai standar dan prosedur yang ada. Kegiatan ini sekaligus untuk meningkatkan koordinasi dan sinergi antara PLTU Rembang dengan stakeholder yang terlibat agar jika kondisi darurat terjadi, evakuasi dan recovery dapat segera tertangani dengan baik. (adv) Editor : Abdul Rokhim