Kawasan Karangturi saat ini dipercantik dengan lampu-lampu hias. Sehingga jika sore sampai malam hari kerap dikunjungi warga. Di sejumlah titik juga ada pedagang yang menjajakan makanan. Selain itu juga ada persewaan otoped. Sehingga pengunjung bisa berkeliling menggunakan kendaraan listrik tersebut.
Selain itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Karangturi juga aktif menggelar event tiap pekan. Seperti fashion show dan musik keroncong yang digelar di kawasan tersebut.
Nurohman, salah satu pengelola Desa Wisata Karangturi mengatakan wilayah ini menjadi ring satu di kawasan kota pusaka. Ia berharap pemerintah kabupaten bisa segera melegalkan pengelola Lasem Kota Pusaka. Sehingga dari pihak desa bisa menyesuaikan atau memiliki payung hukum.
Terkait event di Desa Karangturi, ia bersama pengelola lainnya mengisi dengan kegiatan festival budaya. Harapannya, kawasan ini ke depan bisa dikembangkan."Untuk membuat Lasem Kota Pusaka layak dikembangkan," katanya.
Setiap pekan dilaksanakan kegiatan yang mencerminkan kultur lasem. Untuk event bulanan pengelola menggelar festival Tembok Nduwur. "Ada juga kegiatan tiga bulanan," imbuhnya.
Seluruh kegiatan ini dilaksanakan swadaya, artinya tidak ada dana dari pemerintah di atasnya. Sementara pengelola dilaksanakan Pokdarwis, Pemerintah Desa, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Saat ini sudah ada dua event yang terlaksana.
Dari pantauannya di dua kali kegiatan ada sekitar dua ribu pengunjung. Panitia tidak menarik tiket. Namun menarik parkir untuk menata lokasi agar tidak mengganggu bangunan kota pusaka. Lokasinya juga berada di luar kawasan. Satu kendaraan ditarik Rp 2 ribu
Pihaknya juga mendampingi sekitar 128 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang membuka lapak. "Semua habis (dagangannya)," jelasnya. (vah/ali) Editor : Abdul Rokhim