Kostum dibuat dengan berbagai bahan. Mulai anyaman bambu bekas kukusan, keranjang arang, besek, dan dipadu kain perca batik lasem. Akhirnya jadilah kostum istimewa yang dikenakan tujuh siswa SLB. Mereka berperan sebagai raja, ratu, dan prabu serta, emban.
Mereka tampil penuh percaya diri di hadapan para juri dan juga Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro. Dengan penuh ekspresi mereka berjalan kaki di atas karpet merah dengan jarak tempuh dari pasar duwur Jolotundo hingga Alun-alun Lasem.
Kepala SLB Lasem Peni Widati Wulansari menuturkan jika sekolahnya membuat satu tim untuk berpartisipasi dalam memperingati Hari Jadi Kota Lasem ke-1.140. Mereka diambil dari siswa tunarungu, tunagrahita dan autis.
”Untuk anak tunagrahita berperan ratu, raja, prabu. Emban gabungan tunagrahita dan tunarungu. Kolaborasi dari tiga jenjang SDLB, SMPLB dan SMALB,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Tak hanya siswa, semua guru dan karyawan tanpa kecuali juga turut serta berpartisipasi. Dengan mengangkat tema ”Keterbatasan kita tidak menghentikan langkah kita, akan tetapi memanggil keberanian dan kekuatan kita”.
“Tema ini bertujuan, agar masyarakat tidak memandang sebelah mata keberadaan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). SLB Lasem membuktikan bahwa ABK juga bisa ikut berpartisipasi. Dengan keterbatasan justru memicu keberanian dan kekuatan kita mampu tampil di event-event umum. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik,” ungkapnya.
Peni menambahkan even batik carnival 2022 akhir pekan lalu merupakan kegiatan pertama kalinya yang diikuti anak-anak didiknya. “Ke depan kami berharap membawa semangat baru SLB Lasem, untuk selalu berpartisipasi di setiap kegiatan. Serta meningkatkan semangat dan rasa percaya diri anak -anak spesial tersebut,” imbuhnya. (noe/ali) Editor : Abdul Rokhim