Pemerhati Wisata Rembang Iyan menaruh kepedulian nasib destinasi tertua di wilayah Rembang kota. Menurutnya, selama 18 tahun tinggal di Rembang tidak ada perubahan dan tidak ada gebrakan signifikan.
”Saya sejak SMP sampai sekarang masak Taman Kartini Rembang tidak ada perubahan. Kalah dengan Wates dan Karangjahe,” ungkapnya.
Meski bukan asli daerah dia peduli dengan Rembang. Karena Taman Kartini menyimpan sejarah sekaligus menjadi magnet saat hari raya kupatan. Meskipun selama pandemi tidak ada even. Tapi sebelumnya bisa dibayangkan ribuan orang biasa tumplek blek di Taman Kartini.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kudus dari pengelola Taman Kartini. Penataan TRP Kartini bagian depan dan tengah sempat mengemuka. Detail Engineering Design (DED) dan masterplan sudah masuk provinsi. Namun hingga kemarin belum ada tindak lanjut.
“Harapannya segera bisa terealisasi. Signal tahun 2022 ada kabar positif. Sesuai rencana penataan total. Ada pengerukan pantai, pembuatan pantai buatan serta renovasi kolam. Betul saat ini rencana pengembangannya pantai. Kalau pantai di taman Kartini kurang layak, kena limbah bau dan sebagainya,” kata Sriyono salah satu pengelola Taman Kartini.
Menurutnya saat ini hanya mengelola kolam renang. Kemudian keamanan, kebersihan dan penarikan tiket. “Selanjutnya setiap hari disetorkan bendahara Pariwisata. Kolam renang disewa per dua tahun. Kira-kira sampai Oktober 2022. Selama enam bulan lebih Taman Kartini tutup total. Lalu diganti intensif dari pemerintah daerah selama lima bulan. Jadi mundur. Karena ditambahi waktu pengelolaannya,” imbuhnya. (ali) Editor : Ali Mustofa