Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ingin Dihargai Orang Lain? Ini Cara Menjadi Pribadi Baik dalam Kehidupan Sehari-hari

Ali Mustofa • 2026-03-14 08:02:56

Ilustrasi teman akrab
Ilustrasi teman akrab

RADAR KUDUS – Dalam kehidupan sosial, setiap orang tentu ingin dihargai dan diperlakukan dengan baik oleh orang lain.

Namun pada kenyataannya, tidak semua orang mampu mewujudkan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi pribadi yang baik sering kali terdengar sederhana ketika diucapkan, tetapi membutuhkan kesadaran, latihan, dan ketulusan hati ketika dijalankan.

Sikap baik bukan sekadar perilaku yang tampak di permukaan, melainkan cerminan dari hati yang penuh empati dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam Islam sendiri, akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman seseorang.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, membiasakan diri berbuat baik bukan hanya memberikan dampak positif bagi hubungan sosial, tetapi juga menjadi jalan menuju keberkahan hidup.

Membiasakan Kebaikan dalam Aktivitas Sehari-hari

Kebaikan sejatinya tidak selalu harus diwujudkan dalam hal-hal besar.

Justru sering kali, tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan sosial.

Salah satu bentuk kebaikan yang paling sederhana adalah tersenyum.

Senyum yang tulus dapat mencairkan suasana, mengurangi ketegangan, serta membuat orang lain merasa dihargai.

Rasulullah SAW bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

Senyum dapat diberikan kepada siapa saja, baik kepada teman, tetangga, rekan kerja, maupun orang yang baru ditemui.

Bahkan ketika hati sedang diliputi kesedihan, berusaha untuk tetap tersenyum bisa menjadi cara menjaga suasana hati agar tidak dipenuhi energi negatif.

Selain tersenyum, menyapa orang lain juga menjadi bentuk perhatian sederhana yang sering kali membawa dampak besar.

Sapaan ringan seperti “halo”, “hai”, atau sekadar anggukan kepala dapat membuat seseorang merasa diakui keberadaannya.

Di lingkungan sekolah atau tempat kerja, kebiasaan mengucapkan salam atau “selamat pagi” dapat membantu menciptakan suasana yang hangat dan penuh keakraban.

Menjadi Pendengar yang Baik

Kebaikan tidak hanya ditunjukkan melalui ucapan, tetapi juga melalui sikap ketika berinteraksi dengan orang lain.

Salah satu bentuk kepedulian yang sering diabaikan adalah kemampuan untuk mendengarkan.

Banyak orang ingin didengar, tetapi tidak banyak yang benar-benar mau mendengarkan.

Padahal, memberikan perhatian penuh ketika seseorang berbicara merupakan bentuk penghargaan yang sangat berarti.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan pentingnya berkata baik dan bersikap santun kepada sesama manusia.

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Ketika seseorang bercerita, berusahalah mendengarkan tanpa memotong pembicaraan atau meremehkan perasaannya.

Dengan cara ini, hubungan antar manusia dapat terjalin dengan lebih kuat dan penuh rasa saling menghormati.

Menjaga Kesopanan dan Sikap Hormat

Sikap sopan santun merupakan fondasi utama dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.

Hal ini dapat dimulai dari kebiasaan sederhana seperti mengucapkan “tolong”, “terima kasih”, dan “maaf”.

Kesopanan juga tercermin dari sikap menghargai orang lain, baik kepada orang yang dikenal maupun yang baru ditemui.

Menghormati orang tua, membantu mereka yang membutuhkan, serta memberikan tempat duduk kepada orang lanjut usia atau ibu hamil adalah contoh nyata dari perilaku yang terpuji.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(
QS. An-Nahl: 90)

Ayat tersebut menegaskan bahwa kebaikan bukan sekadar anjuran, tetapi merupakan perintah yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bersikap Baik kepada Sesama Tanpa Diskriminasi

Kebaikan sejati tidak mengenal batas perbedaan.

Seseorang yang benar-benar baik akan memperlakukan orang lain secara adil tanpa membedakan latar belakang suku, usia, status sosial, maupun agama.

Sikap rendah hati juga menjadi bagian penting dari akhlak yang mulia.

Merasa diri lebih baik daripada orang lain justru dapat menumbuhkan kesombongan yang merusak hubungan sosial.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Karena itu, sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan merupakan bagian dari upaya menjaga keharmonisan dalam masyarakat.

Menebarkan Kebaikan kepada Orang-orang Terdekat

Kebaikan tidak hanya ditunjukkan kepada orang asing, tetapi justru harus dimulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, sahabat, dan orang-orang yang kita cintai.

Membantu orang tua dalam pekerjaan rumah, mendengarkan cerita anggota keluarga, atau memberikan dukungan kepada teman yang sedang mengalami kesulitan merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti.

Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Dengan menebarkan kebaikan kepada orang-orang di sekitar, hubungan kekeluargaan dan persahabatan akan menjadi lebih erat dan penuh kehangatan.

Menjaga Ketulusan dalam Berbuat Baik

Hal yang tidak kalah penting dalam berbuat baik adalah menjaga niat agar tetap tulus.

Kebaikan yang dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian atau keuntungan pribadi tidak akan memberikan nilai yang sesungguhnya.

Kebaikan yang lahir dari ketulusan hati justru akan menghadirkan kebahagiaan yang lebih dalam, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Allah SWT berfirman: “Jika kamu berbuat baik, maka sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra: 7)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan pada akhirnya akan kembali kepada diri sendiri dalam bentuk kebaikan pula.

Menjadi Baik Meski Tidak Selalu Mudah

Dalam praktiknya, bersikap baik tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya seseorang menghadapi sikap orang lain yang kasar, egois, atau bahkan menyakiti perasaan.

Namun justru dalam situasi seperti itulah kualitas akhlak seseorang diuji.

Menahan amarah, tidak membalas keburukan dengan keburukan, serta memilih bersikap sabar merupakan tanda kedewasaan dalam bersikap.

Allah SWT berfirman: “Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)

Dengan cara tersebut, hubungan yang semula dipenuhi konflik dapat berubah menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, menjadi orang baik bukanlah sesuatu yang harus dimulai dari tindakan besar.

Justru kebiasaan-kebiasaan kecil seperti tersenyum, menyapa, membantu orang lain, dan berkata sopan merupakan langkah awal yang sederhana namun bermakna.

Jika kebiasaan ini terus dilakukan, maka perlahan-lahan akan terbentuk karakter yang penuh empati, kepedulian, serta ketulusan.

Dalam kehidupan yang penuh dengan kesibukan dan tantangan, kebaikan sederhana sering kali menjadi cahaya kecil yang mampu menerangi kehidupan banyak orang.

Dan dari sanalah, masyarakat yang harmonis serta penuh kepedulian dapat terwujud. (top)

Editor : Ali Mustofa
#Kebaikan #sopan #Ketulusan #masyarakat #Kehidupan #Allah SWT #dihargai