Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba'asyin, menyoroti memudarnya cara pandang bangsa Indonesia terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi fondasi perjuangan melawan kolonialisme.
Menurutnya, perubahan cara pandang tersebut menjadi tantangan serius di tengah derasnya arus informasi saat ini.
Pandangan tersebut disampaikan Anis dalam kegiatan Ngaji Budaya Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (20/6).
Ia menilai banjir informasi dan narasi yang berkembang saat ini justru berpotensi menggeser nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi identitas bangsa.
Baca Juga: Suluk Maleman : Bongkar Penyalahgunaan Relasi Kuasa Agama
Anis menjelaskan, sejarah mencatat bahwa perlawanan terhadap kolonialisme pada abad ke-16 tidak semata-mata didorong oleh kepentingan ekonomi, tetapi juga karena adanya pertentangan nilai antara masyarakat pribumi dan para penjajah.
"Perlawanan yang muncul di negara-negara Muslim seperti Afrika, Asia, Timur Tengah, hingga Nusantara, termasuk Demak, Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi, berangkat dari keyakinan bahwa nilai yang dibawa penjajah bertentangan dengan pandangan hidup yang mereka yakini," ujarnya.
Menurut Anis, kolonialisme tidak hanya berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga upaya merendahkan nilai-nilai peradaban yang telah hidup di tengah masyarakat Indonesia.
"Kolonialisme bukan hanya soal penyedotan kekayaan alam, tetapi yang lebih mendasar adalah peremehan terhadap nilai-nilai peradaban yang sudah berkembang di kalangan rakyat," katanya.
Ia juga menyoroti besarnya kontribusi kalangan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan. Menurutnya, nilai kemanusiaan yang diajarkan di lingkungan santri melahirkan banyak gerakan perlawanan terhadap penjajah.
Anis menyebut, setelah Indonesia merdeka terdapat tiga kelompok utama yang membentuk kekuatan militer nasional, yakni mantan anggota KNIL, bekas tentara PETA, serta laskar Hizbullah yang dipimpin para santri dan kiai.
"Bahkan jumlah anggota Hizbullah yang bergabung menjadi salah satu yang terbesar," ungkapnya.
Meski demikian, Anis menilai setelah kemerdekaan cara pandang bangsa perlahan mengalami pergeseran. Berbagai sistem yang diterapkan dinilai masih banyak mengadopsi warisan kolonial, termasuk dalam aspek regulasi maupun pendidikan.
"Undang-undang dan berbagai aturan masih banyak mengadopsi peninggalan Belanda. Sistem pendidikan juga demikian. Padahal pada masa itu infrastruktur pendidikan belum berkembang, kecuali peninggalan Politik Etis. Sekolah Dasar Inpres sendiri baru mulai dibangun pada era 1970-an," jelasnya.
Baca Juga: Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba'asyin Soroti Ancaman Autoimun Kehidupan Bangsa
Sebagai perbandingan, Anis menilai Iran mampu menunjukkan keberanian mempertahankan identitas dan cara pandangnya sebagai bangsa. Menurutnya, perbedaan politik di dalam negeri tidak menghalangi masyarakat untuk bersatu ketika menghadapi ancaman dari luar.
"Bahkan kelompok oposisi pun dapat bersatu ketika menghadapi musuh dari luar," tuturnya.
Sementara itu, budayawan sekaligus akademisi Bambang Mursito mengkritisi sistem pendidikan nasional yang dinilai belum mampu menyeimbangkan aspek intelektual, emosional, dan spiritual peserta didik.
Baca Juga: Ngaji Budaya Suluk Maleman di Pati Mengajak untuk Bermuhasabah di Bulan Muharram
Ia menilai porsi pendidikan agama di sekolah masih sangat terbatas, hanya sekitar tiga jam pelajaran dalam sepekan.
"Seharusnya penyusunan kurikulum dilakukan secara matang. Dahulu sebelum 1984 ada penataran guru dan buku paket sudah dipersiapkan. Sekarang setiap pergantian menteri diikuti pergantian kurikulum sehingga terkesan tidak konsisten," kata Bambang.
Diskusi budaya tersebut dihadiri ratusan peserta. Suasana berlangsung hangat dan semakin semarak dengan penampilan kelompok musik Sampak GusUran yang mengiringi jalannya acara. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab