Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ternyata yang Paling Bisa Menikmati Dunia Justru yang Tidak Mencintainya

Ali Mustofa • Rabu, 6 Mei 2026 | 12:07 WIB
Ilustrasi seseorang menikmati hidup dengan bahagia (gemini ai)
Ilustrasi seseorang menikmati hidup dengan bahagia (gemini ai)

RADAR KUDUS – Ukuran kekayaan sering kali dipahami sebatas jumlah harta yang dimiliki.

Padahal, dalam kenyataan hidup, kekayaan sejati tidak selalu berbanding lurus dengan kepemilikan materi.

Banyak orang memiliki segalanya, tetapi hatinya tetap merasa kurang.

Sebaliknya, ada pula yang hidup sederhana namun jiwanya penuh rasa cukup dan ketenangan.

Berangkat dari kesadaran inilah, manusia diajak menata kembali cara pandang terhadap makna kaya yang sesungguhnya.

Kaya Jiwa Lebih Bernilai dari Kaya Harta

Tidak mencintai harta bukan berarti identik dengan kemiskinan.

Seseorang bisa saja memiliki kekayaan melimpah, tetapi hatinya tidak terikat pada dunia. 

Orang seperti inilah yang disebut kaya jiwa. Ia merasa cukup dalam keadaan apa pun, baik saat mendapatkan banyak maupun sedikit.

Sebaliknya, orang yang hatinya terpaut pada materi tidak pernah benar-benar merasakan kecukupan.

Ketika memperoleh banyak, ia masih merasa kurang. Ketika memperoleh sedikit, ia merasa hidupnya sempit.

Bahkan saat kehilangan, ia bisa larut dalam kesedihan yang mendalam.

Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kaya yang sesungguhnya bukanlah apa yang ada di tangan, melainkan apa yang ada di hati.

Menikmati Dunia Tanpa Mencintainya

Menariknya, justru orang yang tidak mencintai dunia mampu menikmati dunia dengan lebih ringan.

Ia bersyukur ketika mendapat sedikit, dan tetap bersyukur ketika mendapat banyak. Bahkan ketika kehilangan, hatinya tidak runtuh.

Hal ini terjadi karena kebahagiaannya tidak bergantung pada jumlah materi. Dunia hanya ia pandang sebagai sarana, bukan tujuan.

Al-Qur’an mengingatkan: “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini mengajak manusia untuk tidak menjadikan dunia sebagai pusat kebahagiaan.

Realitas Rezeki yang Selalu Berubah

Kehidupan tidak pernah berjalan dalam garis lurus. Rezeki kadang melimpah, kadang berkurang, bahkan terkadang terasa berhenti.

Kesehatan pun demikian: kadang kuat, kadang lemah. Hubungan rumah tangga pun mengalami pasang surut.

Kesadaran akan perubahan inilah yang seharusnya menumbuhkan kesiapan dalam hati: siap senang dan siap susah, siap kaya dan siap sederhana, siap sehat maupun sakit.

Allah berfirman: “Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan hati dalam menghadapi perubahan hidup.

Pertanyaan untuk Diri Sendiri

Ketika materi menjadi ukuran utama, lahirlah berbagai kepalsuan sosial.

Orang dihormati karena kendaraan mewahnya, bukan karena akhlaknya. 

Orang kaya mudah didengar, sementara orang sederhana sering diabaikan meski ilmunya tinggi.

Fenomena ini menunjukkan betapa mudahnya manusia menilai seseorang dari tampilan luar, bukan dari kualitas diri.

Padahal Allah menegaskan: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh harta, melainkan oleh ketakwaan.

Pada akhirnya, setiap orang perlu bertanya kepada dirinya: Apakah kita ingin dihormati karena siapa diri kita sebenarnya, atau karena apa yang kita miliki?

Kekayaan materi dapat memoles penampilan, tetapi kekayaan jiwa menghadirkan ketenangan yang tidak bisa dibeli.

Dan di situlah letak kekayaan yang sesungguhnya. (top)

Bottom of Form

Editor : Ali Mustofa
#kaya jiwa #diri sendiri #rezeki #manusia #kekayaan