RADAR KUDUS – Hidup di dunia sering terasa begitu serius, seolah semua harus dikejar secepat mungkin.
Banyak orang menghabiskan tenaga, pikiran, dan waktu untuk mengumpulkan materi, jabatan, serta pengakuan.
Padahal, dalam pandangan iman, dunia hanyalah tempat singgah yang sangat singkat sebelum perjalanan panjang menuju akhirat.
Rasulullah memberikan pedoman yang menyeimbangkan pandangan manusia terhadap dunia dan akhirat melalui sebuah atsar:
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.”
Hadis ini sering disalahpahami. Sebagian orang mengira dunia harus dikejar mati-matian.
Padahal, maknanya justru menunjukkan bahwa urusan dunia tidak perlu dijalani dengan tergesa-gesa dan penuh kecemasan.
Sebaliknya, urusan akhiratlah yang harus disikapi dengan kesungguhan tanpa penundaan.
Dunia: Sekadar Singgah, Bukan Tujuan
Jika manusia merenung sejenak, ia akan sadar bahwa hidup di dunia sangat singkat.
Kita datang tanpa membawa apa pun, dan kelak pergi tanpa membawa materi apa pun.
Di antara kelahiran dan kematian, manusia hanya “dititipi” sesuatu untuk sementara.
Karena itu, tidak ada satu pun nash agama yang memerintahkan manusia menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Dunia hanya bagian kecil dari perjalanan panjang. Ia bukan rumah abadi, melainkan tempat transit sebelum pulang ke kampung akhirat.
Kesadaran ini membuat seorang mukmin tidak memandang dunia terlalu serius.
Kesulitan tidak membuatnya putus asa, dan kesenangan tidak membuatnya terlena. Ia memahami bahwa semua hanya sementara.
Akhirat: Tujuan yang Harus Dikejar Sepenuh Hati
Berbeda dengan dunia, Al-Qur’an mengajarkan bahwa mencari ridha Allah harus dilakukan dengan kesungguhan total.
Allah berfirman: “Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)
Ayat ini menggambarkan sosok manusia yang rela memberikan yang terbaik,baik tenaga, waktu, bahkan nyawanya, demi meraih ridha Allah.
Mereka tidak beramal setengah hati. Segala pengorbanan dilakukan dengan penuh kesungguhan karena yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya.
Penutup ayat tersebut menegaskan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Ini menjadi jaminan bahwa setiap pengorbanan di jalan kebaikan tidak akan pernah sia-sia.
Belajar Menertawakan Dunia
Secara fitrah, manusia sebenarnya tidak terikat pada materi. Saat lahir, manusia tidak membawa apa pun.
Saat wafat, manusia juga tidak membawa apa pun. Semua yang dimiliki di antara dua fase itu hanyalah titipan sementara.
Namun manusia sering lupa. Ia merasa memiliki, lalu mencintai berlebihan.
Dari sinilah lahir keseriusan berlebihan terhadap dunia.
Padahal, semua yang dikumpulkan pada akhirnya akan ditinggalkan.
Jika semua akan ditinggalkan, mengapa harus dipikirkan sampai membuat hati gelisah?
Orang yang memahami hakikat dunia tidak akan memandangnya terlalu serius.
Ia mampu melihat kesusahan dengan senyuman dan memandang ujian sebagai bagian dari permainan kehidupan.
Hidup di dunia menjadi ringan ketika manusia menyadari bahwa semuanya hanyalah sementara.
Kesedihan tidak abadi, kesenangan pun tidak kekal. Maka, tidak perlu terlalu larut dalam keduanya.
Menata Prioritas Hidup
Inti pesan dari ajaran ini sangat tegas: Urusan dunia dijalani secukupnya, tanpa diliputi rasa cemas yang berlebihan.
Sedangkan urusan akhirat dikejar dengan sungguh-sungguh dan tidak ditunda.
Ketika susunan prioritas seperti ini terbangun, hati akan terasa lebih lapang.
Dunia tetap dijalani sebagaimana mestinya, namun tidak sampai menguasai batin.
Sementara itu, akhirat menjadi arah utama yang terus diupayakan.
Pada akhirnya, siapa pun yang bersungguh-sungguh mencari ridha Allah tidak akan pernah merugi.
Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan yang sesungguhnya. (top)
Top of Form
Bottom of Form
Editor : Ali Mustofa