RADAR KUDUS - Sai merupakan salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji yang dilakukan dengan berjalan bolak-balik antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ibadah ini bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga mengandung makna spiritual mendalam yang meneladani perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS.
Dalam pandangan para ulama seperti Imam Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, sai termasuk rukun haji yang wajib dilaksanakan. Sementara menurut Imam Hanafi, sai dihukumi wajib haji yang jika ditinggalkan tetap sah, namun dikenai dam atau denda.
Pelaksanaan sai dilakukan setelah tawaf ifadah, dimulai dari Bukit Safa menuju Marwah. Jemaah laki-laki disunahkan berjalan cepat di area tertentu, sedangkan perempuan cukup berjalan normal. Perjalanan ini dilakukan sebanyak tujuh kali secara berurutan tanpa jeda yang tidak diperlukan.
Selama perjalanan, jemaah dianjurkan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Tidak ada doa wajib khusus, namun berbagai doa dianjurkan untuk memperkuat kekhusyukan dan penghayatan ibadah.
Di antaranya, doa saat pertama mendekati Safa, doa ketika berada di puncak Safa menghadap Ka’bah, serta doa di antara dua bukit, termasuk doa memohon ampunan, keselamatan dunia-akhirat, dan keteguhan iman. Setiap titik perjalanan menjadi momen refleksi spiritual yang mendalam.
Setelah menyelesaikan tujuh kali perjalanan hingga Bukit Marwah, jemaah dianjurkan melakukan tahalul dengan memotong rambut sebagai tanda berakhirnya sebagian larangan ihram dan penyempurnaan ibadah haji.
Dengan memahami tata cara dan doa sai secara benar, diharapkan jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk, tertib, dan penuh makna spiritual.
Editor : Mahendra Aditya