Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jangan Hidup Sendiri! Inilah Pesan Tersembunyi Surat Al Ashr yang Sering Diabaikan

Ali Mustofa • Jumat, 1 Mei 2026 | 10:38 WIB
Ilustrasi menasihati dalam kebenaran. (gemini ai)
Ilustrasi menasihati dalam kebenaran. (gemini ai)

RADAR KUDUS – Surat Al Ashr tidak hanya menekankan iman dan amal saleh, tetapi juga menegaskan kewajiban lain yang tak kalah penting: saling menasihati dalam kebenaran.

Inilah makna watawa saubil haqqi, sebuah ajakan agar manusia tidak hidup sendiri dalam mencari jalan yang benar, melainkan saling mengingatkan dan membimbing.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali terjebak dalam kebingungan antara kebenaran dan kesalahan.

Bahkan, tidak jarang kebenaran justru ditolak karena bertentangan dengan kepentingan atau kebiasaan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 70:
“Apakah mereka berkata: dia (Muhammad) gila? Padahal dia membawa kebenaran kepada mereka, tetapi kebanyakan mereka membenci kebenaran itu.”

Ayat ini menggambarkan kenyataan bahwa kebenaran sering tidak disukai.

Karena itulah, manusia membutuhkan peran sesama untuk saling mengingatkan agar tidak tersesat.

Wasiat dalam Kebenaran

Kata Al-Haqq berarti kebenaran yang berdasar pada bukti dan ilmu.

Dalam Islam, kebenaran tidak dibangun atas asumsi atau perasaan semata, melainkan berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan pengetahuan yang benar.

Segala sesuatu tidak bisa disebut benar tanpa dasar ilmu.

Karena itu, saling menasihati dalam kebenaran sejatinya juga berarti saling berbagi ilmu dan pemahaman.

Mengajarkan kebenaran bukan hanya tugas ulama, tetapi tanggung jawab setiap muslim sesuai kemampuan masing-masing.

Dalam konteks Surat Al Ashr, kata tawashau berarti saling berwasiat atau saling menasihati.

Wasiat bukan sekadar teguran sesaat, tetapi pesan yang disampaikan dengan cara lembut dan terus-menerus.

Nasihat yang baik tidak memaksa, tidak menyakiti, dan tidak merendahkan. Sebaliknya, ia disampaikan dengan kasih sayang agar mudah diterima.

Karena itu, dakwah sejatinya adalah bentuk kepedulian terhadap keselamatan orang lain.

Dakwah sebagai Tanggung Jawab Bersama

Dalam kehidupan, manusia mengenal dua jenis kebenaran:

Pertama, kebenaran mutlak. Yaitu kebenaran yang bersumber dari Allah SWT dan ajaran agama.

Kedua, kebenaran relatif. Yaitu kebenaran yang lahir dari pemikiran manusia yang dapat berubah.

Puncak dari kebenaran mutlak adalah tauhid, yaitu keyakinan akan keesaan Allah.

Nilai-nilai agama termasuk dalam kebenaran yang tidak berubah sepanjang masa.

Karena itu, saling menasihati dalam kebenaran berarti mengajak manusia kembali kepada nilai-nilai yang tetap dan tidak berubah.

Menyampaikan kebenaran bukan sekadar kewajiban individu tertentu.

Setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan sesama, sesuai kemampuan dan kapasitasnya.

Dakwah tidak harus selalu melalui mimbar. Ia bisa hadir dalam berbagai bentuk:

Memberi contoh perilaku baik, mengingatkan dengan kata yang santun.

Kemudian berbagi ilmu dan pengalaman, dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Semua ini adalah bentuk nyata dari watawa saubil haqqi.

Menghidupkan Budaya Saling Mengingatkan

Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang terbiasa saling mengingatkan dalam kebaikan.

Tanpa budaya ini, manusia mudah larut dalam kesalahan tanpa ada yang mengingatkan.

Surat Al Ashr mengajarkan bahwa keselamatan tidak bisa diraih sendirian.

Keselamatan harus diperjuangkan bersama melalui iman, amal saleh, dan dakwah dalam kebenaran.

Dengan demikian, watawa saubil haqqi menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang menekankan kepedulian sosial, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif untuk menjaga kebenaran. (top)

Editor : Ali Mustofa
#Kehidupan #islam #kebenaran #Allah SWT #surat al ashr