RADAR KUDUS – Dalam kehidupan sosial, memilih teman bukan sekadar soal kecerdasan atau keluasan wawasan.
Ada faktor yang jauh lebih menentukan arah hidup seseorang, yakni kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
Sebab tidak semua orang berilmu membawa kebaikan, dan tidak semua orang sederhana membawa keburukan.
Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan, bahwa teman bisa menjadi jalan keselamatan, tetapi juga bisa menjadi sebab kehancuran.
Seorang ulama besar, Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, memberikan pesan yang menohok hati:
Bersahabat dengan orang bodoh yang mampu menahan hawa nafsunya lebih baik daripada bersahabat dengan orang pandai yang mengikuti hawa nafsunya.
Nasihat ini tampak sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Sebab banyak orang mengira bahwa kecerdasan otomatis membawa kebaikan.
Padahal, ilmu tanpa kendali diri justru bisa menjadi senjata yang berbahaya.
Orang yang berilmu namun dikuasai nafsu dapat menjerumuskan dirinya sendiri sekaligus orang lain.
Sebaliknya, orang yang sederhana pengetahuannya tetapi mampu menahan diri justru membawa keselamatan bagi lingkungannya.
Tanda Ilmu yang Dikuasai Nafsu
Ilmu seharusnya menjadi cahaya. Namun ketika hawa nafsu mengambil alih, cahaya itu berubah menjadi api yang membakar.
Ilmu digunakan untuk membenarkan ego, menyakiti orang lain, atau mengejar kepentingan pribadi.
Allah SWT berfirman: “Pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa nafsu yang tidak terkendali bisa mengalahkan akal dan ilmu.
Orang yang seharusnya menjadi pembimbing justru tersesat karena mengikuti keinginannya sendiri.
Sebaliknya, orang yang sederhana ilmunya namun mampu menjaga diri dari hawa nafsu memiliki nilai besar di sisi Allah.
Ia mungkin tidak pandai berdebat, tidak mahir berbicara panjang, tetapi hatinya bersih dan tindakannya terjaga.
Salah satu ciri orang berilmu yang dikuasai hawa nafsu adalah berbicara tanpa mempertimbangkan dampaknya. Ia menumpahkan semua yang ada di kepalanya tanpa peduli perasaan orang lain.
Ucapannya tajam, tetapi tidak menyejukkan. Kata-katanya benar, tetapi cara penyampaiannya melukai.
Teman Adalah Cermin Diri
Memilih teman berarti memilih arah hidup. Teman yang mampu menahan hawa nafsu akan mengajak pada kesabaran, kejujuran, dan ketenangan.
Sedangkan teman yang dikuasai hawa nafsu, meskipun pintar, bisa menyeret pada konflik, kesombongan, dan kesalahan.
Rasulullah bersabda: “Seseorang mengikuti agama temannya, maka perhatikanlah dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud)
Pesan para ulama ini mengingatkan kita bahwa ukuran kebaikan bukan sekadar kecerdasan, gelar, atau kepintaran berbicara.
Ukuran sejatinya adalah kemampuan menundukkan hawa nafsu.
Orang pintar yang dikuasai nafsu bisa menjerumuskan banyak orang. Namun orang sederhana yang mampu menjaga dirinya justru menjadi sumber keselamatan.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan manusia bukanlah luasnya ilmu semata, tetapi hati yang mampu mengendalikan diri. (top)
Editor : Ali Mustofa