RADAR KUDUS – Dalam menjalani kehidupan, banyak orang merasa dirinya telah berada di jalur yang benar.
Namun ketika berani melihat lebih dalam ke dalam hati, ada dua kecenderungan yang sering muncul tanpa disadari.
Yaitu mudah mengeluh saat menghadapi kesulitan dan cenderung menahan saat berada dalam kelapangan.
Hal ini bukan sekadar fenomena sosial, melainkan telah lama dijelaskan dalam ajaran agama.
Islam memandang kecenderungan tersebut sebagai bagian dari kelemahan dasar manusia.
Artinya, sifat itu memang melekat sejak awal, tetapi bukan untuk dibiarkan berkembang tanpa arah.
Justru dari sinilah proses pembinaan iman dan pembentukan karakter dimulai.
Berbagai ajaran moral, kajian psikologi, hingga nilai-nilai agama menggambarkan bahwa kecenderungan mengeluh dan bersikap kikir termasuk sisi lemah manusia.
Bukan berarti setiap orang pasti demikian.
Namun setiap manusia memiliki potensi ke arah itu apabila tidak dilatih dan dibiasakan untuk mengendalikannya
Manusia dan Kebiasaan Mengeluh
Di era kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, keluhan sering kali menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Persoalan kecil terasa begitu berat, sementara rintangan sederhana tampak seolah tak mudah dilalui.
Saat rezeki terasa sempit, kegelisahan pun mudah muncul dan harapan perlahan memudar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa manusia cenderung memandang kesulitan lebih besar daripada nikmat yang dimiliki.
Padahal, dalam kenyataannya, jumlah nikmat sering kali jauh melampaui masalah yang datang.
Namun karena perhatian lebih tertuju pada kekurangan, keluhan pun mudah terucap tanpa disadari.
Dari sudut pandang psikologi, manusia memiliki kecenderungan negativity bias, yakni lebih mudah menaruh perhatian pada hal negatif dibandingkan hal positif.
Hal ini berkaitan dengan naluri bertahan hidup sejak masa lampau, ketika manusia harus peka terhadap ancaman demi menjaga keselamatan.
Akibatnya, hal-hal yang tidak menyenangkan terasa lebih menonjol, sementara berbagai nikmat dianggap biasa saja.
Masalah lebih cepat dibicarakan dibandingkan rasa syukur yang seharusnya diungkapkan.
Itulah sebabnya mengeluh terasa begitu alami, sedangkan membiasakan diri untuk bersyukur membutuhkan latihan dan kesadaran.
Ketika Lapang Justru Menjadi Kikir
Menariknya, ketika kondisi hidup mulai membaik, kelemahan lain justru kerap muncul. Sebagian orang menjadi khawatir kehilangan apa yang sudah dimiliki.
Harta yang seharusnya dapat menjadi sarana berbagi malah dijaga dengan sangat ketat karena rasa tidak aman terhadap masa depan.
Ketakutan akan kemiskinan sering membuat manusia menahan kebaikan.
Padahal, berbagi justru menjadi salah satu jalan datangnya keberkahan dalam hidup.
Sikap kikir pada dasarnya berakar dari rasa takut kekurangan.
Di dalam diri manusia terdapat dorongan naluriah berupa kekhawatiran akan kemiskinan, kecemasan terhadap masa depan, serta ketakutan kehilangan apa yang telah dimiliki.
Seolah ada bisikan dalam pikiran yang mengatakan, “Simpan saja dulu, jangan diberikan.”
Padahal di sisi lain, manusia juga dianugerahi empati dan keinginan untuk berbagi.
Dua dorongan ini selalu berjalan berdampingan, menunggu mana yang lebih sering dilatih dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sifat Dasar Manusia
Kecenderungan ini telah disinggung dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma’arij ayat 19–21.
Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.”
Ayat tersebut menjelaskan tiga karakter dasar manusia.
Yaitu mudah gelisah dan mengeluh, panik ketika menghadapi kesulitan, serta menahan kebaikan ketika memperoleh kelapangan.
Dengan kata lain, saat susah manusia cenderung mengeluh, dan saat senang ia berpotensi menjadi pelit.
Inilah kelemahan dasar manusia yang harus diperbaiki melalui iman dan latihan ibadah.
Penegasan serupa juga terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 100 yang menjelaskan akar kekikiran manusia, yaitu rasa takut miskin.
“Katakanlah: jika kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya kamu akan menahannya karena takut miskin. Dan manusia itu sangat kikir.”
Ayat ini menegaskan bahwa kekikiran sering berangkat dari kekhawatiran akan kekurangan di masa depan.
Menariknya, manusia juga memiliki potensi kebalikan dari sifat tersebut.
Di balik kecenderungan mengeluh, ada kemampuan untuk bersyukur, bersabar, dan tetap optimistis.
Di balik kecenderungan kikir, tersimpan kemampuan untuk menjadi dermawan, murah hati, dan gemar berbagi.
Jika digabungkan, kebalikan dari dua sifat itu adalah pribadi yang bersyukur sekaligus dermawan.
Dalam diri manusia selalu ada dua sisi yang berjalan berdampingan.
Sisi lemah seperti mengeluh, kikir, takut kekurangan, dan egois, berhadapan dengan sisi mulia.
Berupa rasa syukur, kedermawanan, keyakinan akan kecukupan, serta kepedulian.
Sisi mana yang lebih dominan sangat bergantung pada latihan, lingkungan, dan kebiasaan yang terus dibangun sepanjang hidup.
Pengecualian: Manusia Mampu Berubah
Setelah menggambarkan kelemahan manusia, Al-Qur'an justru menghadirkan kabar yang menenangkan.
Tidak semua manusia terjebak dalam sifat keluh kesah dan kekikiran.
Ada kelompok yang mampu menahan diri dan memperbaiki karakternya.
Dalam lanjutan Surah Al-Ma’arij disebutkan bahwa pengecualian itu adalah orang-orang yang menjaga ibadahnya.
Mereka istiqamah dalam shalat, gemar bersedekah, memegang amanah, serta memiliki rasa takut kepada Allah.
Sifat mengeluh dan kikir bukanlah takdir yang tak dapat diubah, melainkan titik awal yang harus dilatih agar berkembang menjadi kebiasaan yang lebih baik.
Ayat berikutnya menegaskan: “Kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat, yang mereka tetap dalam shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 22–23)
Ayat-ayat selanjutnya menggambarkan karakter mereka: senang berbagi, menjaga amanah, serta memiliki rasa tanggung jawab spiritual.
Ini menunjukkan bahwa iman dan ibadah menjadi sarana untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan.
Dari Keluhan Menuju Syukur
Perubahan watak tidak terjadi secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari.
Mengubah keluhan menjadi rasa syukur, serta mengganti kekikiran dengan kedermawanan, adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan dan latihan terus-menerus.
Pada akhirnya, manusia tidak dituntut terlahir dalam keadaan sempurna.
Yang dituntut adalah kesediaan untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit sepanjang hidup.
Dalam Al-Qur'an diajarkan bahwa mengeluh dan kikir merupakan bagian dari kelemahan dasar manusia, sedangkan bersyukur dan dermawan adalah buah dari pendidikan iman.
Karena itu, Islam menekankan berbagai ibadah sebagai sarana pembentukan karakter.
Shalat melatih kesabaran, zakat dan sedekah menumbuhkan kedermawanan, serta dzikir membiasakan hati untuk bersyukur.
Mengeluh dan kikir bukanlah takdir yang menetap, melainkan titik awal perjalanan.
Sebaliknya, sikap syukur dan sifat dermawan adalah hasil dari latihan jiwa yang konsisten.
Itulah sebabnya banyak nasihat kehidupan menekankan pentingnya membiasakan syukur setiap hari dan belajar memberi meski dalam jumlah kecil.
Sifat baik tidak hadir secara otomatis, tetapi tumbuh melalui kebiasaan yang terus dipelihara. (top)
Editor : Ali Mustofa