Jakarta - Di tengah lautan manusia yang memadati Masjidil Haram, ada satu pemandangan yang kerap mencuri perhatian para jemaah: kawanan merpati yang terbang rendah, hinggap dengan tenang, dan berjalan bebas di sekitar Ka'bah.
Keberadaan burung-burung ini bukan sekadar pelengkap suasana, melainkan telah menjadi bagian dari identitas kota suci Makkah selama berabad-abad.
Bagi banyak jemaah haji dan umrah, merpati Masjidil Haram menghadirkan nuansa damai di tengah hiruk-pikuk ibadah.
Mereka terbang berkelompok, berputar di langit pelataran, lalu mendarat tanpa rasa takut di antara manusia.
Pemandangan ini menciptakan harmoni unik antara makhluk hidup yang berbeda, namun berbagi ruang yang sama dengan penuh ketenangan.
Hidup Berdampingan dengan Jemaah
Tidak seperti merpati di kota-kota besar lainnya yang cenderung liar dan menjauh dari manusia, merpati di Masjidil Haram justru menunjukkan perilaku sebaliknya.
Mereka terbiasa dengan kehadiran jutaan orang setiap hari.
Bahkan, tak jarang burung-burung ini mendekat saat jemaah menebar biji-bijian sebagai makanan.
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Lingkungan Masjidil Haram yang aman dan terlindungi membuat merpati berkembang tanpa ancaman.
Dalam kawasan suci tersebut, terdapat aturan yang melarang perburuan atau tindakan yang dapat membahayakan hewan.
Hal ini menjadikan merpati hidup dalam kondisi yang relatif stabil dan tidak merasa terancam oleh aktivitas manusia.
Perhatian Khusus dari Otoritas
Pemerintah Arab Saudi turut berperan dalam menjaga keberlangsungan populasi merpati ini.
Di sekitar Masjidil Haram, dibangun menara-menara khusus yang difungsikan sebagai tempat tinggal dan berkembang biak.
Fasilitas tersebut dirancang agar burung-burung ini memiliki habitat yang layak di tengah kawasan yang terus dipadati jemaah.
Selain itu, terdapat juga sistem pemberian pakan yang teratur.
Beberapa pihak bahkan mewakafkan dana khusus untuk memastikan kebutuhan makanan merpati tetap terpenuhi.
Upaya ini menunjukkan bahwa keberadaan mereka tidak hanya dihargai secara simbolis, tetapi juga dijaga secara nyata.
Kepercayaan yang Melekat
Salah satu hal yang paling sering dibicarakan terkait merpati Masjidil Haram adalah anggapan bahwa burung-burung ini tidak mengotori area sekitar Ka'bah.
Banyak jemaah yang mengaku tidak pernah melihat kotoran burung di pelataran utama, meskipun jumlah merpati cukup banyak.
Secara ilmiah, hal ini sulit dibuktikan secara mutlak.
Namun, ada beberapa kemungkinan penjelasan, seperti pola terbang, kebiasaan hinggap di area tertentu, serta kebersihan yang dijaga secara intensif oleh petugas.
Terlepas dari itu, kepercayaan tersebut telah menjadi bagian dari narasi spiritual yang berkembang di kalangan jemaah.
Jejak Sejarah dan Nilai Religius
Keberadaan merpati di Makkah juga sering dikaitkan dengan kisah sejarah Islam.
Salah satu cerita yang populer adalah tentang burung yang bersarang di Gua Tsur saat peristiwa Hijrah Nabi Muhammad.
Dalam kisah tersebut, sarang burung dipercaya membantu melindungi Nabi Muhammad dari kejaran musuh.
Meski tidak semua sejarawan sepakat bahwa merpati Masjidil Haram merupakan keturunan langsung dari burung tersebut, kisah ini tetap memberikan nilai simbolis yang kuat.
Merpati dianggap sebagai lambang perlindungan, kesetiaan, dan kedamaian dalam tradisi Islam.
Simbol Harmoni di Tanah Suci
Di tengah modernisasi besar-besaran yang terus berlangsung di Makkah, keberadaan merpati Masjidil Haram tetap dipertahankan.
Mereka menjadi pengingat bahwa di balik kemegahan arsitektur dan teknologi, ada unsur alami yang tetap hidup dan menyatu dengan aktivitas ibadah.
Bagi para jemaah, momen melihat merpati beterbangan di sekitar Ka'bah sering kali menjadi pengalaman yang membekas.
Tidak sedikit yang mengabadikannya sebagai bagian dari perjalanan spiritual mereka.
Pada akhirnya, merpati Masjidil Haram bukan hanya sekadar burung.
Mereka adalah simbol kehidupan yang damai, keberlanjutan, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual di salah satu tempat paling suci di dunia.
Editor : Iwan Arfianto