Ternyata Begini Cara Menasehati yang Benar dalam Islam, Banyak yang Masih Salah!

Ali Mustofa • Dipublikasikan Senin, 20 April 2026 | 07:53 WIB
Ilustrasi adab menasehati dalam Islam. (gemini ai)
Ilustrasi adab menasehati dalam Islam. (gemini ai)

RADAR KUDUS – Dalam perjalanan hidup seorang Muslim, tidak ada ruang yang benar-benar kosong dari nasehat.

Sejak bangun hingga kembali beristirahat, manusia senantiasa berada dalam lingkaran saling mengingatkan.

Ada kalanya kita menjadi pihak yang menasihati, dan di waktu lain kita justru membutuhkan nasihat dari orang lain.

Inilah salah satu keindahan Islam.

Agama ini tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menata interaksi antarsesama agar tetap berada dalam koridor kebaikan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menegaskan bahwa inti agama ini adalah nasehat.

Dalam hadits dari Tamim Ad Dariy radhiallahu’anhu, beliau bersabda: “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh umat Muslim.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa nasehat bukan sekadar aktivitas tambahan dalam kehidupan beragama, melainkan ruh yang menghidupkan seluruh sendi-sendi Islam.

Namun demikian, menyampaikan nasehat tidak boleh dilakukan sembarangan.

Ada adab yang harus dijaga agar tujuan nasehat tercapai, bukan justru melahirkan permusuhan.

Niat Ikhlas sebagai Pondasi Nasehat

Setiap amal dalam Islam selalu bermula dari niat. Tanpa niat yang lurus, kebaikan bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat.” (HR. Bukhari)

Nasehat yang dilandasi keikhlasan akan terasa ringan, lembut, dan menenangkan.

Sebaliknya, jika nasehat disampaikan karena ingin dipuji, ingin menang debat, atau sekadar menunjukkan kesalahan orang lain, maka ia berubah menjadi beban yang menyakitkan.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah: 27)

Para ulama menjelaskan bahwa takwa yang dimaksud mencakup menjauhi kesyirikan, termasuk syirik dalam niat.

Maka sebelum menasehati orang lain, seorang Muslim harus terlebih dahulu menata hatinya.

Cara yang Benar Harus Sesuai Syariat

Ikhlas saja tidak cukup. Cara penyampaian nasehat juga harus sesuai tuntunan syariat.

Allah berfirman: “Barang siapa berharap bertemu Rabbnya, hendaklah ia beramal shalih.” (QS. Al Kahfi: 110)

Amal shalih adalah amal yang memenuhi dua syarat: ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah.

Dalam hadits lain, Nabi menjelaskan tingkatan mengingkari kemungkaran: “Siapa melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan; jika tidak mampu, dengan lisan; jika tidak mampu, dengan hati.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa cara harus menyesuaikan kemampuan dan kondisi.

Niat baik tidak boleh menjadi alasan untuk menggunakan cara yang salah.

Lembut dalam Ucapan, Indah dalam Penyampaian

Nasehat yang baik harus dibungkus dengan kata-kata yang lembut.

Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk berbicara lembut kepada Fir’aun: “Katakanlah kepadanya perkataan yang lembut.” (QS. Thaha: 44)

Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan bersikap lembut, maka kepada sesama Muslim tentu lebih utama.

Rasulullah bersabda: “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata kotor, atau jorok.” (HR. Tirmidzi)

Perkataan yang tampak sepele pun bisa berakibat besar. Nabi mengingatkan bahwa satu ucapan dapat menjerumuskan seseorang ke neraka sangat dalam.

Karena itu, nasehat harus menjadi jembatan kasih sayang, bukan senjata untuk melukai.

Seringkali konflik muncul karena nasehat dibangun di atas kabar yang belum jelas.

Islam mengajarkan tabayun: “Jika datang orang fasik membawa berita, telitilah terlebih dahulu.” (QS. Al Hujurat: 6)

Rasulullah bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Karena itu, klarifikasi adalah bagian dari adab nasehat. Tanpa tabayun, nasehat bisa berubah menjadi tuduhan.

Hindari Prasangka Buruk dan Tidak Memaksa

Nasehat tidak boleh lahir dari prasangka negatif. Allah berfirman: “Jauhilah banyak prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa.” (QS. Al Hujurat: 12)

Rasulullah menambahkan: “Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan paling dusta.” (HR. Bukhari)

Seorang Muslim dianjurkan mencari alasan terbaik bagi saudaranya selama masih memungkinkan.

Tugas seorang Muslim hanyalah menyampaikan. Penerimaan adalah urusan Allah. Nasehat yang dipaksakan sering berakhir pada penolakan.

Para ulama juga menegaskan pentingnya menasehati secara pribadi. Imam Asy-Syafi’i berkata bahwa nasehat di depan umum sering berubah menjadi celaan.

Rasulullah bersabda tentang menasehati pemimpin: “Jangan menasehati secara terang-terangan, tetapi berbicaralah empat mata.” (HR. Ahmad)

Ini menunjukkan bahwa menjaga kehormatan orang lain adalah bagian dari adab nasehat.

Nasehat sebagai Jalan Persaudaraan

Nasehat tidak boleh berubah menjadi provokasi yang memecah belah.

Rasulullah bersabda bahwa setan telah putus asa disembah, namun masih berusaha menimbulkan permusuhan di antara manusia.

Allah berfirman: “Jangan ikuti orang yang menebar adu domba.” (QS. Al Qalam: 10–11)

Provokasi dan adu domba adalah dosa besar yang merusak persatuan umat.

Pada akhirnya, nasehat adalah bentuk kasih sayang. Ia hadir untuk memperbaiki, bukan menghakimi.

Ketika disampaikan dengan ikhlas, lembut, dan bijak, nasehat menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju kebaikan.

Islam mengajarkan bahwa masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat tanpa kesalahan, melainkan masyarakat yang saling mengingatkan dengan cara terbaik.

Dari sinilah persaudaraan tumbuh, dan dari sinilah rahmat Allah turun. (top)

Editor : Ali Mustofa
menasehati Persaudaraan islam kasih sayang Kehormatan