Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bukan Cuma Iman dan Amal! Ini Syarat Lengkap Agar Hidup Tak Berakhir Sia-sia

Ali Mustofa • Sabtu, 18 April 2026 | 08:47 WIB
Ilustrasi pentingnya dakwah dan nasihat. (gemini ai)
Ilustrasi pentingnya dakwah dan nasihat. (gemini ai)

RADAR KUDUS – Dalam keseharian, manusia beriman berusaha menata hidup secara seimbang antara urusan dunia dan akhirat.

Namun realitasnya, tidak sedikit yang terjebak pada salah satu sisi saja.

Ada yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan akhirat, dan ada pula yang berfokus pada ibadah pribadi tanpa peduli tanggung jawab sosial.

Padahal, keimanan dan amal saleh saja belum cukup menyempurnakan perjalanan hidup seorang Muslim.

Ada dua pilar penting lain yang tidak boleh ditinggalkan.

Yakni saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran. Inilah pesan besar yang terkandung dalam Surah Al Ashr.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al Ashr ayat 1–3: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Ayat singkat ini menjadi peta jalan hidup manusia agar tidak merugi.

Waktu yang diberikan bukan sekadar untuk beribadah secara pribadi.

Tetapi juga untuk menyebarkan kebaikan dan memperkuat sesama dalam menghadapi ujian hidup.

Mengapa Harus Saling Menasihati?

Iman dan amal saleh pada dasarnya dapat berdampak pada diri sendiri.

Namun manusia tidak hidup sendirian. Ia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Karena itulah, Islam menekankan pentingnya dakwah dan nasihat.

Dengan saling mengingatkan, masyarakat akan terjaga dari kesalahan, dosa, dan penyimpangan.

Melalui budaya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, manusia akan lebih mudah mencapai kebahagiaan dunia sekaligus keselamatan akhirat.

Banyak orang mengira bahwa setelah beriman dan berbuat baik, hidup akan selalu mudah. Padahal Allah SWT telah menegaskan bahwa iman pasti diuji.

Firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 2: “Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan mengatakan ‘kami beriman’ sementara mereka tidak diuji?”

Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan. Karena itu, dakwah dan ketaatan membutuhkan kesabaran yang besar.

Allah juga berfirman dalam QS. Yusuf ayat 108 tentang kewajiban mengajak manusia kepada jalan Allah dengan hujah yang jelas.

Tiga Tingkatan Sabar yang Harus Dimiliki

Kesabaran bukan sekadar kata, melainkan latihan panjang yang harus dibiasakan.

Para ulama menjelaskan ada tiga bentuk kesabaran yang wajib dimiliki manusia:

Pertama, Sabar Menjauhi Maksiat. Ini adalah sabar yang paling berat. Nafsu manusia cenderung menyukai hal yang mudah dan menyenangkan, meski berujung pada dosa.

Kedua, Sabar dalam Ketaatan. Ibadah membutuhkan disiplin dan perjuangan. Jiwa manusia sering merasa berat untuk taat, sehingga kesabaran sangat diperlukan.

Ketiga, Sabar Menghadapi Ujian. Kehilangan, kesedihan, dan kesulitan hidup adalah bagian dari ujian. Seorang mukmin dituntut tetap tegar dan tidak berputus asa.

Secara bahasa, sabar berarti menahan diri. Dalam KBBI, sabar berarti tabah menghadapi cobaan serta tidak tergesa-gesa.

Mengenal Nafsu dan Cara Mengalahkannya

Nafsu adalah dorongan yang ada dalam diri manusia. Tanpa nafsu, manusia tidak memiliki semangat untuk bergerak dan berbuat.

Namun jika tidak dikendalikan, nafsu dapat menjerumuskan pada keburukan.

Nafsu memiliki dua sisi, Yaitu nafsu positif yang mendorong kebaikan dan nafsu negatif yang mengarah pada keburukan

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 72 bahwa orang yang buta terhadap hakikat dirinya di dunia akan buta pula di akhirat.

Karena itu, pengendali nafsu adalah qalbu. Para ulama seperti Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia menghadapi empat penghalang ibadah: dunia, makhluk, setan, dan nafsu.

Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam memberikan pedoman: Jika dihadapkan pada dua pilihan yang samar, pilihlah yang paling berat bagi nafsu, karena biasanya itulah yang benar.

Ajakan Allah sering terasa berat, sementara ajakan nafsu terasa mudah.

Misalnya, memilih salat berjamaah di awal waktu tentu lebih berat dibanding menunda.

Karena itu, seorang Muslim harus belajar menerima nasihat sebelum mampu memberi nasihat kepada orang lain.

Melatih Diri Menuju Kesabaran Sejati

Kesabaran lahir dari latihan panjang. Mengendalikan lisan, pikiran, dan emosi akan membuat hidup lebih indah.

Allah mengingatkan manusia untuk menjaga pikiran, karena dari sanalah arah hidup ditentukan.

Manusia dibekali akal dan ilmu agar mampu menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.

Pada akhirnya, waktu yang diberikan harus menjadi sarana memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, menyebarkan dakwah, dan memperindah hidup dengan akhlak mulia.

Semoga setiap detik kehidupan membawa kita semakin dekat kepada Allah SWT dan menjauhkan kita dari kerugian dunia maupun akhirat. (top)

 

Editor : Ali Mustofa
#menasehati #kebenaran #Iman #manusia #Kesabaran