RADAR KUDUS – Jika manusia mau memperhatikan alam dengan seksama, terdapat banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kehidupan hewan.
Salah satunya adalah tentang kemandirian anak hewan serta bentuk kasih sayang induknya yang berjalan secara alami dan penuh hikmah.
Fenomena ini menunjukkan betapa Allah mengatur kehidupan makhluk-Nya dengan sistem yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing.
Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.’” (QS. an-Nahl: 68).
Berbeda dengan bayi manusia yang membutuhkan pengasuhan panjang.
Banyak anak hewan berkaki empat mampu berdiri dan berjalan tidak lama setelah dilahirkan.
Mereka seolah telah dibekali kemampuan bertahan hidup sejak awal kehidupan.
Hal ini bukan tanpa alasan. Induk hewan tidak memiliki sarana seperti manusia untuk mendidik anaknya dalam jangka panjang.
Mereka tidak memiliki akal dan kemampuan kompleks untuk mengasuh sebagaimana manusia.
Karena itu, anak hewan diberi kemampuan mandiri sejak awal sebagai bentuk keseimbangan dalam penciptaan.
Kasih Sayang untuk Anak yang Lemah
Fenomena serupa terlihat pada beberapa jenis burung.
Anak ayam, misalnya, dapat langsung berjalan dan mematuk makanan tidak lama setelah menetas.
Mereka tidak membutuhkan bimbingan panjang untuk mencari makan.
Kemampuan ini merupakan bagian dari insting yang ditanamkan Allah agar mereka mampu bertahan hidup sejak dini.
Namun tidak semua anak hewan memiliki kemampuan yang sama.
Pada jenis burung tertentu seperti merpati atau tekukur, anak-anaknya lahir dalam kondisi lemah dan belum mampu mencari makan sendiri.
Di sinilah terlihat sisi kasih sayang induk yang luar biasa.
Induk burung memamah makanan di temboloknya, lalu menyuapkannya kepada anaknya secara langsung.
Proses ini terus dilakukan hingga anak tersebut cukup kuat untuk mandiri.
Hikmah bagi Manusia
Fenomena ini menunjukkan keseimbangan yang sangat rapi.
Pada hewan yang anaknya kuat, diberikan kemandirian sejak awal.
Pada hewan yang anaknya lemah, diberikan insting kasih sayang yang lebih besar pada induknya.
Semua berjalan sesuai kebutuhan masing-masing spesies, tanpa ada yang berlebihan atau kekurangan.
Kisah kehidupan hewan ini mengajarkan manusia tentang keseimbangan antara kemandirian dan kasih sayang.
Ada masa untuk mendidik, ada masa untuk melepas.
Ada waktu untuk memberi perlindungan, ada pula waktu untuk melatih kemandirian.
Melihat kehidupan anak hewan dan induknya seharusnya menumbuhkan rasa takjub kepada Sang Pencipta.
Tanpa sekolah, tanpa pelatihan, tanpa teori, kehidupan mereka berjalan rapi sesuai aturan alam yang telah ditetapkan.
Maha Suci Allah Yang Maha Mengatur lagi Maha Bijaksana, yang menjadikan setiap makhluk hidup tumbuh dan berkembang sesuai kebutuhan hidupnya. (top)
Editor : Ali Mustofa