Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kenapa Islam Menganjurkan Bekerja daripada Meminta? Ini Alasannya

Ali Mustofa • 2026-03-31 11:33:37
Ilustrasi peminta-minta (freepik)
Ilustrasi peminta-minta (freepik)

RADAR KUDUS – Fenomena meminta-minta bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut akhlak, niat, dan cara manusia memandang rezeki.

Dalam Islam, bekerja dan menjaga kehormatan diri sangat dijunjung tinggi.

Sementara meminta-minta hanya dibolehkan dalam kondisi benar-benar darurat.

Dalam pandangan para ulama, seseorang yang masih memiliki kecukupan namun tetap meminta-minta sejatinya telah mengambil bagian yang seharusnya menjadi hak kaum dhuafa.

Sikap ini bukan hanya merendahkan martabat diri, tetapi juga menutup pintu rezeki bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa meminta-minta kepada manusia padahal ia tidak membutuhkan, maka seakan-akan ia memakan bara api.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa meminta tanpa kebutuhan bukanlah jalan yang diridhai.

Niat Menentukan Kekayaan atau Kefakiran

Islam menekankan pentingnya niat dalam setiap perbuatan.

Jika seseorang berusaha dan meminta demi kebaikan akhirat, Allah akan memberikan kekayaan hati, ketenangan batin, dan kecukupan yang tak selalu berbentuk materi.

Sebaliknya, jika permintaan didorong oleh ambisi dunia semata, maka rasa kekurangan justru akan terus menghantui.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya.” (HR. Tirmidzi)

Kekayaan sejati bukan pada banyaknya harta, melainkan pada rasa cukup di dalam jiwa.

Manusia sering terjebak dalam angan-angan panjang tentang dunia. Padahal kehidupan dunia hanyalah singgah sementara.

Ketika seseorang terlalu tenggelam dalam keinginan tanpa batas, ia akan kehilangan arah dan keberkahan.

Allah SWT berfirman: “Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Kesadaran akan kefanaan dunia menjadi kunci agar manusia tidak menjadikannya sebagai tujuan utama.

Menjaga Martabat dalam Meminta

Sikap qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, merupakan benteng utama dari kebiasaan meminta-minta.

Orang yang qana’ah hidup dengan kehormatan dan kebebasan.

Ia tidak menjadi budak dunia, sebab ia percaya bahwa Allah telah menjamin rezekinya.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan.” (HR. Muslim)

Qana’ah menjadikan seseorang merdeka, tidak tergantung pada manusia, dan tetap menjaga harga diri.

Baca Juga: Kenapa Islam Menganjurkan Bekerja daripada Meminta? Ini Alasannya

Islam tidak menutup pintu bagi orang yang benar-benar membutuhkan untuk meminta bantuan.

Namun, meminta adalah jalan terakhir.

Bahkan disebutkan bahwa seseorang yang meminta kepada orang lain akan merasakan beban berat pada wajahnya, baik permintaannya dikabulkan maupun tidak.

Karena itu, Islam mendorong umatnya untuk bekerja, berusaha, dan menjaga kehormatan diri semaksimal mungkin.

Rasulullah SAW bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjaga Kehormatan, Meraih Keberkahan

Di sisi lain, Islam juga mengajarkan agar tidak menghalangi orang yang bertanya atau membutuhkan bantuan.

Masyarakat diperintahkan untuk saling peduli, saling membantu, dan tidak menutup pintu kebaikan.

Allah SWT berfirman: “Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” (QS. Ad-Dhuha: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa kepedulian sosial tetap harus dijaga, sekalipun Islam menganjurkan umatnya untuk menjaga kehormatan diri.

Pada akhirnya, ajaran tentang meminta-minta bukan semata melarang, melainkan mendidik manusia agar hidup dengan kehormatan, usaha, dan rasa cukup.

Rezeki bukan hanya soal jumlah, tetapi keberkahan.

Orang yang menjaga kehormatan dirinya akan dimuliakan Allah.

Sebaliknya, mereka yang menggantungkan hidup pada permintaan tanpa kebutuhan akan kehilangan kemuliaan tersebut.

Hidup dengan qana’ah adalah jalan menuju kebebasan jiwa, ketenangan hati, dan keberkahan yang tak terhingga. (top)

Editor : Ali Mustofa
#kefakiran #bekerja #islam #rezeki #Allah SWT