Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Stop Gengsi! Ini Alasan Kenapa Hidupmu Terasa Tidak Bahagia

Ali Mustofa • 2026-03-25 11:59:59
Ilustrasi Gaya Ibu Muda. (shutterstock)
Ilustrasi Gaya Ibu Muda. (shutterstock)

RADAR KUDUS – Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap dihadapkan pada dorongan untuk terlihat “lebih” di mata orang lain.

Dorongan itulah yang sering disebut sebagai gengsi. 

Sekilas tampak seperti upaya menjaga kehormatan diri, namun jika tidak dikendalikan, gengsi justru berubah menjadi beban yang menggerogoti ketenangan hidup secara perlahan.

Baca Juga: 5 Bukti Gengsi Bisa Menghancurkan Kebahagiaan, Nomor 1 Paling Sering Terjadi

Di tengah kehidupan modern yang serba terbuka, di mana segala hal mudah dipamerkan, gengsi semakin menemukan ruangnya.

Ia hadir tidak hanya sebagai sikap, tetapi juga membentuk cara berpikir, cara bertindak, bahkan cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Memahami Gengsi: Antara Harga Diri dan Ilusi Pengakuan

Gengsi pada dasarnya adalah keinginan untuk diakui, dihargai, dan dipandang tinggi oleh orang lain.

Sayangnya, keinginan ini sering melampaui batas kewajaran hingga mendorong seseorang hidup di luar kemampuannya.

Banyak yang mengira gengsi adalah bagian dari harga diri. Padahal, keduanya sangat berbeda.

Harga diri tumbuh dari kejujuran dan penerimaan diri.

Sedangkan gengsi lahir dari kebutuhan akan pengakuan manusia.

Allah SWT mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah penampilan atau status sosial, melainkan ketakwaan:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa...” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa gengsi tidak pernah menjadi standar kemuliaan dalam Islam.

Ciri-Ciri Gengsi yang Sering Tidak Disadari

Gengsi sering kali hadir secara halus, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya telah dikuasai oleh sifat tersebut.

Beberapa tanda yang kerap muncul antara lain: Selalu ingin terlihat lebih baik daripada orang lain.

Enggan mengakui kekurangan atau kesalahan. Sulit menerima saran dan kritik.

Memaksakan gaya hidup demi citra. Takut dianggap rendah oleh lingkungan 

Ciri-ciri ini jika dibiarkan akan membentuk pribadi yang tertutup, sulit berkembang, dan jauh dari ketenangan batin.

Gengsi Menghambat Proses Pengembangan Diri

Salah satu dampak terbesar dari gengsi adalah terhambatnya proses belajar.

Orang yang dikuasai gengsi cenderung merasa dirinya sudah cukup baik, sehingga enggan menerima hal baru.

Padahal, Islam mendorong umatnya untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Sikap rendah hati menjadi kunci agar seseorang terbuka terhadap ilmu dan pengalaman.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang rendah hati karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Sikap tawadhu inilah yang justru membuka jalan kemajuan, bukan gengsi yang menutup diri dari perubahan.

Gengsi juga membuat seseorang sulit menikmati perjalanan hidup.

Ia selalu merasa bahwa apa yang dijalani belum cukup baik, karena membandingkan dirinya dengan orang lain.

Akibatnya, hidup terasa berat. Setiap proses dijalani dengan keterpaksaan, bukan dengan keikhlasan.

Padahal, setiap fase kehidupan memiliki nilai yang harus disyukuri.

Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu...” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak sederhana itu buruk, dan tidak semua yang tampak mewah membawa kebaikan.

Gengsi Menyiksa Diri dan Menghilangkan Rasa Syukur

Gengsi juga membentuk cara pandang yang sempit.

Seseorang menjadi sulit menerima perbedaan, enggan bekerja sama, dan cenderung merasa paling benar.

Hal ini berdampak pada hubungan sosial. Ia menjadi sulit bergaul, karena menetapkan standar tinggi yang tidak realistis terhadap orang lain.

Padahal, Islam menekankan pentingnya ukhuwah dan sikap saling menghargai.

Tanpa disadari, gengsi membuat hidup terasa semakin sulit.

Standar hidup yang tinggi, keinginan untuk selalu terlihat sempurna, serta tekanan sosial menjadikan hati tidak pernah merasa cukup.

Padahal, kebahagiaan sejati lahir dari rasa syukur.

Allah SWT berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu...” (QS. Ibrahim: 7)

Ketika gengsi mendominasi, rasa syukur akan hilang. Yang tersisa hanyalah keinginan tanpa batas. (top)

Editor : Ali Mustofa
#syukur #Gengsi #bahagia #Allah SWT